Jika nanti nyawaku sudah terbang mengudara, tulisan ini satu-satunya jejak yang kutinggalkan.
Di setiap harinya, aku habiskan waktu dengan murung dan merenung, membaca, menghisap sebatang teman kecil yang selalu menjadikanku batuk setiap harinya, serta memikirkan perihal-perihal lain tentang hidup, dan hidup setelah mati. kehidupanku penuh dengan tanda tanya, kehidupan yang dulunya aku rancang semasa kecil mulai berkeliaran tak beraturan, seperti asap rokok yang setelah dihembus entah kemana perginya, tak tentu.
Bathinku terus menerus dihantam, pikiranku terus menerus dihantui, hingga mati menjadi pilihan satu-satunya yang paling kunanti.
Barangkali kehidupan mencoba untuk mempermainkanku, ya... Mempermainkanku selama 20 tahun lamanya (seumur hidup).
Hingga pada akhirnya rasa pesimis akan berumur panjang mencuat kepermukaan, kegelisahan selalu membuatku ingin cepat-cepat tertidur panjang dalam keabadian, mati muda.
Aku meradang dan tersingkir. Mengembara sebagai orang kalah. Akankah nasibku setragis Kurt Cobain, pemusik yang candu benar akan kehancuran, yang terlunta-lunta dilamun pikirannya sendiri, menembaki kepalanya dengan senapan laras panjang, hingga pecah berserakan? Atau lebih parah? Entahlah... Yang pasti, hidup mulai kurasa seperti api kemalangan yang tak pernah padam.
Apa yang kau harapkan dari cerita berjudul CATATAN PEMBUNUHAN?
Kisah romantis? atau kisah persahabatan penuh canda tawa? Mungkin, tapi jangan terlalu berharap.
Menurutku, ini lebih seperti diary pribadi.
Diary yang kutulis setiap malam. Ketika jangkrik menangis, dan angin malam berlarian.
Dan sama seperti diary biasanya. Ini rahasia.
Cuma aku yang boleh membacanya.