Jika nanti nyawaku sudah terbang mengudara, tulisan ini satu-satunya jejak yang kutinggalkan.
Di setiap harinya, aku habiskan waktu dengan murung dan merenung, membaca, menghisap sebatang teman kecil yang selalu menjadikanku batuk setiap harinya, serta memikirkan perihal-perihal lain tentang hidup, dan hidup setelah mati. kehidupanku penuh dengan tanda tanya, kehidupan yang dulunya aku rancang semasa kecil mulai berkeliaran tak beraturan, seperti asap rokok yang setelah dihembus entah kemana perginya, tak tentu.
Bathinku terus menerus dihantam, pikiranku terus menerus dihantui, hingga mati menjadi pilihan satu-satunya yang paling kunanti.
Barangkali kehidupan mencoba untuk mempermainkanku, ya... Mempermainkanku selama 20 tahun lamanya (seumur hidup).
Hingga pada akhirnya rasa pesimis akan berumur panjang mencuat kepermukaan, kegelisahan selalu membuatku ingin cepat-cepat tertidur panjang dalam keabadian, mati muda.
Aku meradang dan tersingkir. Mengembara sebagai orang kalah. Akankah nasibku setragis Kurt Cobain, pemusik yang candu benar akan kehancuran, yang terlunta-lunta dilamun pikirannya sendiri, menembaki kepalanya dengan senapan laras panjang, hingga pecah berserakan? Atau lebih parah? Entahlah... Yang pasti, hidup mulai kurasa seperti api kemalangan yang tak pernah padam.
"Semelelahkan apapun hidup, tolong jangan mati di tangan sendiri."
______________________
"Aku nggak mau ngerasain mentalku kembali hancur berantakan hingga rasanya hampir mati hanya karena cinta. Itu sebabnya, aku selalu takut untuk jatuh hati lagi."
Ya, Ditha Aquila selalu takut kembali dibuat terluka sampai tak sadar bahwa ia sudah jadi sumber luka bagi Juna Pradirga. Lihatlah pada kebodohan yang ia buat. Takut ditinggal pergi, tetapi menomorsatukan ego dan gengsi. Ingin diyakinkan, tetapi tak pernah memberi kepercayaan. Mengharapkan yang serius, tetapi memutuskan hidup dalam hubungan tanpa status.
Lebih dari ketakutannya untuk kembali dilukai, Ditha percaya bahwa orang yang mentalnya tidak stabil memang tak pantas untuk dicintai. Sebab bagaimana mungkin ia mencintai raga yang lain saat dirinya sendiri masih seringkali ia sakiti?
Biar aku bertanya, apa yang akan kau putuskan jika seseorang datang pada saat luka masa lalumu belum sepenuhnya hilang? Memilih menerimanya? Atau justru, menolak kehadirannya dengan dalih sakit hatimu yang belum pulih?
Keduanya sama-sama berisiko. Namun, kita selalu bisa memilih, risiko mana yang akan kita ambil.
"Cara paling mudah untuk mencintai diri sendiri adalah dengan berhenti sejenak mencintai orang lain."
PERINGATAN ⚠
Cerita ini bertemakan mental health. Pada beberapa part mengandung konten sensitif seperti adegan kekerasan fisik, self harm, hopeless, trust issues, dan suicidal thoughts.
Publish : 1/09/2021 - 25/12/2021
Revisi [ New version ] : 19/02/2023 -
Rank :
#2 in puisi [04/10/22]
#3 in quotes [30/11/23]
#1 toxic relationship [31/07/22]
#1 trustissue [28/08/22]
#1 loveyourself [09/08/2