Story cover for Rain by DwiAprianingsih8
Rain
  • WpView
    Reads 11
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
  • WpView
    Reads 11
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
Ongoing, First published Apr 01, 2020
seorang gadis yang suka hujan. Derunya, angin dinginnya, embun-embun yang menempel di kaca 
jendela, bahkan dentumam petir yang menggelegar membuat dada bergetar pun ia menyukainya. Hujan 
itu itu ibarat drama kehidupan, suara berisiknya justru membawa kesunyian. Berisik dan sunyi itu bertolak belakang, tapi hujan menyatukannya.
seorang gadis berhati tulus mencintai keluarga yang sebenarnya bukanlah keluarga kandung nya.
dia gadis cupu yatim piatu yang ditinggal kedua orang  tuanya. sungguh kisah yang sangat luar biasa . pengorbanan dan perjuangan dalam hidup nya akan menjadi pembelajaran berharga bagi keluarga nya. ia mengajarkan bahwa tidak ada satupun lebih berharga di dunia ini kecuali keluarga.
All Rights Reserved
Table of contents
Sign up to add Rain to your library and receive updates
or
#3sangpemimpi
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 8
Di Antara Keheningan  cover
Chantika Bulan  cover
The Last Birthday With You  cover
JANJI TANPA SUARA  cover
Haters and Lovers of Rain [END] cover
A KISS BETWEEN SHADOWS (Kkeomchiz) cover
Equanimity(End) cover
Riuh Dalam Sunyi cover

Di Antara Keheningan

5 parts Ongoing

Hujan turun tanpa henti, membasahi setiap sudut kota yang kelabu. Di antara orang-orang yang terburu-buru mencari tempat berteduh, satu gadis berdiri sendiri di tepi jalan. Basah kuyup, tubuhnya gemetar, tapi tatapannya tetap lurus ke depan. Ia melangkah perlahan, tanpa tahu... lampu lalu lintas telah berubah hijau. Dari balik kaca toko roti kecil, seorang pria melihatnya. Tanpa pikir panjang, ia menerobos keluar, menerjang hujan, dan menariknya mundur sebelum suara klakson menyayat udara. "Ya Ampun, kalau mau nyebrang lihat sekeliling dulu, dong!" Gadis itu hanya terdiam. Matanya menatap kosong, tidak takut... hanya asing. Kemudian ia mengangkat tangan, dan dengan gerakan sederhana yang nyaris tak terlihat, ia berkata tanpa suara: Aku tidak bisa mendengar. Saat itu, waktu seakan berhenti. Di bawah hujan yang deras, dua orang yang tumbuh di dunia yang berbeda-saling bersentuhan untuk pertama kalinya. Bukan dengan suara, tapi dengan rasa. "Dunia kami mungkin berbeda, namun dalam keheningan dan kebisingan itu, kami menemukan cara untuk saling merasakan dan mengerti." - Rakasha.