Kau & Hujan Januari

Kau & Hujan Januari

  • WpView
    Lecturas 51
  • WpVote
    Votos 6
  • WpPart
    Partes 2
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación lun, abr 27, 2020
WpInfo
Ficción
Romance
"Coba kau lihat hujan itu. Rintiknya menghujamku seperti acuhmu. Dinginnya seperti sikapmu. Ah, jangan lupakan secangkir kopi kurang takar seperti rasamu yang telah hambar." "Kau seperti si dungu yang belum mengerti apa itu durian, Nona. Aku tak akan mempermasalahkan bagaimana aku dalam sudut pandangmu." 3th kemudian "Berikan aku kopi tanpa gula." "Ini, Nona. Aku sajikan khusus untukmu, agar kau tahu betapa pahitnya menjalani kisah bersamamu."
Todos los derechos reservados
#441
kopi
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Di Antara Keheningan
  • My Barista Boy(Friend)
  • THE KISS }} Johnny Suh ✓
  • A Cup Of Coffee (Done)
  • Di Bawah Rintik Hujan
  • Perihal Hati
  • Berlari Untuk Menyerah [TERBIT CETAK]
  • Kopi & Deadline (On Going)

Hujan turun tanpa henti, membasahi setiap sudut kota yang kelabu. Di antara orang-orang yang terburu-buru mencari tempat berteduh, satu gadis berdiri sendiri di tepi jalan. Basah kuyup, tubuhnya gemetar, tapi tatapannya tetap lurus ke depan. Ia melangkah perlahan, tanpa tahu... lampu lalu lintas telah berubah hijau. Dari balik kaca toko roti kecil, seorang pria melihatnya. Tanpa pikir panjang, ia menerobos keluar, menerjang hujan, dan menariknya mundur sebelum suara klakson menyayat udara. "Ya Ampun, kalau mau nyebrang lihat sekeliling dulu, dong!" Gadis itu hanya terdiam. Matanya menatap kosong, tidak takut... hanya asing. Kemudian ia mengangkat tangan, dan dengan gerakan sederhana yang nyaris tak terlihat, ia berkata tanpa suara: Aku tidak bisa mendengar. Saat itu, waktu seakan berhenti. Di bawah hujan yang deras, dua orang yang tumbuh di dunia yang berbeda-saling bersentuhan untuk pertama kalinya. Bukan dengan suara, tapi dengan rasa. "Dunia kami mungkin berbeda, namun dalam keheningan dan kebisingan itu, kami menemukan cara untuk saling merasakan dan mengerti." - Rakasha.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido