Untuk Sang Hujan

Untuk Sang Hujan

  • WpView
    Reads 6,263
  • WpVote
    Votes 2,045
  • WpPart
    Parts 29
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 27, 2021
Ini tentang gadis si penggemar hujan. Jeanyessa Naraya. Kisahnya berawal ketika ia hanya main-main dengan ucapannya, namun menjadi sebuah kisah yang entah bagaimana ujungnya nanti. Ironisnya, realita hadir memisahkan yang membuatnya harus ikhlas, juga merelakan. Hadirnya orang baru yang menjengkelkan mau tak mau harus ia terima. Namun, satu yang ia tau ; Sang Hujan yang ia benci, pasti mampu menjadi bagian dari bahagianya. Well, ini adalah semburat kisah merajut keikhlasan, perasaan, dan kenyataan. *** 'Teruslah bersama ku. Walau kemarau menghadang, terus tunggu ia berlalu. Maka kita akan bersatu. Hingga ajal berseteru.' Untuk Mu, Sang Hujan Ku. -Jy
All Rights Reserved
#12
penulisbaru
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kemana Arah Pulang?
  • 𝐘𝐨𝐮 ✓
  • When It Rains
  • Hujan dan Sebuket Dandelion
  • JUNTALA ✔️
  • TOMI
  • Semesta Berlima
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • Rain And Tears [Proses Revisi]
  • ADIKARA ELUSIF (END)

Insiden yang merenggut kedua orang tua mereka telah mengubah segalanya. Rumah yang dulu penuh dengan tawa dan kebahagiaan kini terasa hampa dan penuh kesedihan. Setiap sudut rumah yang mereka tinggali kini penuh dengan kenangan akan masa lalu, dan rasa kehilangan yang tak terhingga. Lima bersaudara itu terjebak dalam arungan luka tak kasat mata. Terkunci dalam labirin ketakutan yang tanpa sadar telah mengikis tali persaudaraan mereka. Maraga, si sulung yang harus merelakan masa kuliahnya dan beralih menjadi tulang punggung keluarga. Reshaya, sang kakak kedua yang enggan berbagi duka. Hendara, si anak tengah yang selalu menangis di sepertiga malam hanya karena merindukan Bunda. Dan si kembar, Juandika dan Anandika yang sama-sama memendam sesak tak berkesudahan. "Aku kangen rumah yang dulu." "Kita berdamai sama-sama ya? Jangan ada lagi yang di pendam." Written by Kala Rune Desember, 2024

More details
WpActionLinkContent Guidelines