Mute ✅

Mute ✅

  • WpView
    Reads 55,029
  • WpVote
    Votes 6,066
  • WpPart
    Parts 33
WpMetadataReadComplete Fri, May 15, 2020
Menderita kelumpuhan pita suara merupakan sebuah titik balik kehidupan seorang Auriga Eknath Sagara. Dengan berat hati, ia berhenti menjadi seorang penyanyi muda, merelakan jurusan musik yang telah lama di damba, terusir dari keluarga karena kecacatannya, lalu menjadi begitu depresi dan tertekan akan ekspektasi. Auriga selalu berusaha untuk menerima keadaan dirinya yang baru. Tetapi, segala pemicu depresi itu tidak pernah hilang. Hingga, seorang gadis aneh yang menyebalkan datang. Keberadaannya sempat ditentang oleh Naviel--sang sohib. Namun, gadis itu merupakan kunci Naviel untuk membantu Auriga menemukan kembali kepercayaan dirinya. -- CERITA INI DIIKUTSERTAKAN DALAM ONE DAY ONE CHAPTER CHALLENGE 2020
All Rights Reserved
#398
singer
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Spaces Between Our Words (TAMAT)
  • VANELA [On Going]
  • Menjadi Skala ✓
  • 𝑨𝑹𝑨𝑲𝑯𝑨 [TERBIT]
  • Grow Up [COMPLETED]
  • Cintaku Berawal Dari Sepatu Terbang  ( Bara )
  • NALA KEENARA [Hiatus]
  • EQUANIMITY [End]
  • Hiraeth || Huang Renjun (SUDAH TERBIT)
  • My Favorite Gama (Tamat)

Aurelia, seorang penulis muda yang kembali ke kampung halamannya setelah sepuluh tahun, membawa serta luka yang belum sembuh dari kehilangan saudaranya, Ayra. Kembali ke rumah berarti menghadapi masa lalu yang selama ini ia hindari: hubungan yang memburuk dengan ibunya, kenangan akan saudaranya yang tenggelam dalam danau yang kini menjadi tempat wisata, dan Nadir-sahabat masa kecil yang kini menjadi seniman lukis pendiam yang tinggal di rumah kaca tua di tepi hutan. Sementara itu, Nadir menyimpan rahasia yang telah membebani hatinya selama bertahun-tahun. Ia adalah satu-satunya orang yang bersama Ayra saat tragedi itu terjadi. Namun, sesuatu tentang hari itu tidak pernah ia ceritakan, bahkan kepada dirinya sendiri. Ketika Aurelia dan Nadir dipertemukan kembali lewat proyek restorasi perpustakaan tua-tempat kenangan masa kecil mereka tertinggal-mereka mulai mengurai kata-kata yang tak pernah sempat terucap. Dalam keheningan percakapan mereka, dalam jeda, dalam napas yang tertahan, ada kisah yang selama ini tersembunyi. Dengan narasi yang puitis dan atmosfer yang melankolis, novel ini menggali tema kehilangan, komunikasi yang retak, dan upaya menemukan makna dalam ruang kosong antar kata-kata. The Spaces Between Our Words bukan hanya tentang yang dikatakan, tetapi tentang yang tidak pernah bisa diucapkan-dan bagaimana keheningan bisa menyembuhkan, menyatukan, atau justru memisahkan selamanya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines