Hujan, Halte dan Kita

Hujan, Halte dan Kita

  • WpView
    Reads 63
  • WpVote
    Votes 32
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Apr 21, 2020
2 cucu adam kembali dipertemukan oleh semesta di antara rintik air dari langit dan suara riuh di atap halte. Ada yang menjatuhkan rasa bersama jatuhnya air sedang yang diharap sedikitpun tak merasa. Pada akhirnya apa yang Dia kejar berhasil Dia Miliki, tapi semua tidak berakhir disitu, hari terus berganti dan Tuhan lah penentu sejati. Harapan dan doa terus dilangitkan tapi sayang Tuhan tak menyetujuinya. Mengikhlaskan dan mensyukuri adalah jalan sebenarnya. Mari berkenalan dengan mereka, lihat kisahnya petik hikmahnya :)
All Rights Reserved
#68
ceritahujan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Renjana [COMPLETED]
  • Rahasia Cinta
  • Single Parent | Huang Renjun [SUDAH TERBIT]✅
  • Masih Adakah Cinta? (Tamat✓)
  • Maybe Happy?✔
  • SCHICKSAL

Pada malam paling temaram yang pernah seorang anak jumpai adalah kehilangan sepenggal bait kehangatan yang sepatutnya terus membersamai. Seorang anak yang sudah cukup dewasa sebagai pengganti bapak, seorang anak lain yang baru saja memasuki runyamnya semester tanggung di bangku perguruan tinggi, seorang lainnya lagi baru saja bersuka cita telah memasuki mimpi para anak muda seusia adiknya untuk melepas seragam sekolah, seorangnya lagi baru saja merasa bahwa masa SMA adalah kebebasannya, seorang lainnya lagi masih berkutat dengan permainan remaja tanggung di bangku menengah pertama, satu yang lain masih bersenang-senang pada masa anak-anak yang hendak remaja, dan satu lainnya yang terakhir masih bahagia dimanjakan dengan rambut yang terbelah dua. Namun pada hari itu, nyatanya semesta memberinya segenggam ujian yang harus ditanggung bersama karena kepergian ibunda. Syair-syair elegi selanjutnya mengiringi langkah mereka, mengantarkan satu tubuh yang sudah kaku karena kehilangan ruhnya. Mengantarkan keberangkatan sang ibunda pada tempat paling jauh yang tak bisa mereka singgahi untuk sekadar melepas rindu yang menumpuk dibalik pakaian basah yang baru dicuci, dibalik tumpukan piring kotor yang hendak dibersihkan. Dan lainnya yang menumpuk dan terus menumpuk, membiarkan hati mereka berat diduduki rindu yang tak pernah habis. Dan kemudian luka-luka tak pernah bisa disembuhkan waktu, ketujuh warna dalam keluarga Nawasena berakhir temaram dan kehilangan sukmanya. ©Jeta An Alternate Universe Renjana, 2021

More details
WpActionLinkContent Guidelines