Detik & Pelik

Detik & Pelik

  • WpView
    LETTURE 81
  • WpVote
    Voti 6
  • WpPart
    Parti 2
WpMetadataReadIn corso
WpMetadataNoticeUltima pubblicazione lun, set 6, 2021
Memiliki fisik ideal dan sesuai dengan standar kecantikan adalah hal yang diinginkan banyak manusia. Menjadi cantik, katanya membawa banyak pengaruh baik untuk kehidupan. Sedangkan untuk mereka yang lahir dengan fisik 'seadanya', terpaksa harus menelan ketidakadilan di bumi. Salah satunya Dita, perempuan yang harus merasakan tindakan bullying dari teman-temannya. Hidup berdampingan dengan jerawat bukanlah hal yang ia inginkan. Karena jerawat, adalah hal utama yang membuat hidupnya terasa suram. Tapi bagaimana kalau nasib sial juga dialami oleh manusia lain? Bahkan sejak ia dilahirkan di bumi. Genta lebih dulu, dan lebih lama merasakan kepahitan dunia daripada Dita. Tapi akhirnya, ia bisa membuktikan, dipandang 'cantik' tidak akan membuat hidup terasa jauh di atas manusia lain. Copyright © 2021 by Istia Fardianty.
Tutti i diritti riservati
#2
beautyprivilege
WpChevronRight
Entra a far parte della più grande comunità di narrativa al mondoFatti consigliare le migliori storie da leggere, salva le tue preferite nella tua Biblioteca, commenta e vota per essere ancora più parte della comunità.
Illustration

Potrebbe anche piacerti

  • INSECURE LOVE (END)
  • Nathina (Sudah Terbit)
  • HAVE A NICE DREAM
  • Amaranggana
  • SANDYAKALA ANGKASTA
  • Rengkuh Rasa, Remuk Raga | ✔
  • THE UNYIELDING  [END]
  • Tubby, I Love You! (Selesai)

[ YU DI FOLLOW DULU YUUU ] _AREA DI LARANG INSECURE!!!_ "Gue buruk banget ya?" lirihnya, bertanya ntah pada siapa. Fay tersadar, ia mengusap kasar air matanya. "Harus ya, semua cewek itu cantik? Harus ya, putih? Glowing? Nggak jerawatan? Body goals?" Fay menjeda ucapannya, lagi-lagi air matanya terjatuh. "Jika iya, berarti gue gagal jadi cewek? Gitu?" lirihnya lagi. Kali ini di barengi dengan isakan-isakan kecil. Fay menutup wajahnya dengan kedua tangannya, menangis terisak dalam diam. Menahan sesak yang seolah memenuhi rongga dadanya, dan bersiap akan meledak detik itu juga. Sudah cukup selama ini ia pura-pura kuat, sudah cukup ia pura-pura tidak peduli. Segala cibiran, hinaan, bahkan candaan yang di kemas dengan sangat rapi berisikan tentang segala kekurangannya, kini menumpuk menjadi satu. "Gue juga nggak mau terlahir dengan seperti ini, tapi gue bisa apa? Ini takdir gue, gue salah apa sama kalian? Gue nggak pernah hina kalian? Kalaupun kalian ngehina gue dengan alibi sebuah candaan, gue terima kan?" lirihnya lagi, semakin terisak. Ntahlah, katakan saja jika Fay lemah. Ya, memang lemah! Fay lemah! "Jangan sesekali lo nyalahin takdir, emang benar, banyak mulut yang ngehina fisik lo, dan lo nggak bisa hentiin mereka buat nggak ngehina lo. Lo cuma punya dua tangan, dan lo nggak bisa bungkam mulut mereka. Tapi, lo punya dua telinga, lo bisa fungsiin kedua tangan lo, buat nutup telinga lo. Jangan bodoh!"

Più dettagli
WpActionLinkLinee guida sui contenuti