Aidan ; Esok yang Lebih Baik

Aidan ; Esok yang Lebih Baik

  • WpView
    Reads 2,525
  • WpVote
    Votes 246
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadComplete Sat, Apr 25, 2020
"Aku udah pernah coba sadarin dia sebelumnya." "Dan dia ngga mau denger kan? Dia masih dengan kemarahannya, dia masih dengan keegoisannya. Karena itu dia ngga akan pernah mau dengerin kamu. Tapi karena itu juga Dan, kamu harus buat dia mendengarkan kamu. Buat dia terdesak, hingga dia ngga punya kesempatan untuk menghindar dari apa yang ingin kamu sampaikan padanya. Dia yang merasa tinggi harus tahu, kesombongannya itulah yang akan menghancurkan dirinya sendiri. Kalahkan dia, Aidan... lalu sadarkan dia..." Kata-kata Kira sampai padanya. Meski membuat ibunya koma. Meski dirinya dibuat babak belur olehnya. Meski ia ingin sekali membencinya, nyatanya ia tidak bisa. Aidan, ia hanya ingin diperlakukan selayaknya seorang adik oleh kakaknya, Aron, yang kini begitu banyak berubah. Satu yang ia yakini, kalau itu bukanlah kesalahan Aron sepenuhnya. Bisakah ia menyadarkannya? Memperbaiki keluarga mereka ke arah yang lebih baik. Mampukah ia bangkit dari keterpurukannya? Memberikan sinar kehangatan di hati Aron yang sedang membeku. Inilah perjalanan Aidan bersama Kira, teman masa kecilnya yang akan menuntunnya melewati itu semua.
All Rights Reserved
#8
tekad
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Eliinaa
  • Not Fair!
  • Nayara [ TERBIT ]
  • ALEAGAS [END]
  • ANATHAN  || END
  • Halcyon
  • When Love Became a Memory
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • Luka Naren.
Eliinaa

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata 'Rumah' ? Tempat nyaman dipenuhi kehangatan? Tempat berlindung dari terpaan badai kehidupan? Pasti itu kan yang terlintas di benak kalian? Sayangnya, 'Rumah' yang ada di kehidupanku jauh berbeda dari semua itu. Kehangatan berubah menjadi kepedihan. Tempat yang seharusnya jadi tempat berlindung justru jadi tempat yang paling membuatku tertekan. Aku tidak iri, sungguh. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya ketika dipeluk oleh ayah dan ibu dengan penuh kasih sayang. Sarapan bersama ayah, ibu, kakak dan aku di pagi hari sambil tertawa ria karena masakan ibu yang gosong mungkin? atau jatuh dari motor saat sedang belajar mengendarainya lalu ayah akan datang dan membantuku berdiri, menenangkanku sambil berkata "Gapapa, ini biasa terjadi kok kalo lagi belajar, pernah dengar pepatah 'kamu nggak bakal bisa berdiri kalau nggak pernah jatuh' kan? Nah, kasus kamu sekarang sama kayak pepatah yang ayah bilang tadi." ? atau saat adzan tiba, ayah akan mengajak ibu, kakak dan aku untuk sholat berjamaah dengan ayah sebagai imamnya ? atau mungkin menjahili kakak yang sedang sibuk belajar lalu aku akan dihadiahi kejar-kejar an dan berakhir dengan aku yang terjatuh lalu menangis, kemudian ibu akan datang mengobati lukaku akibat aksi kejar kejar an tadi sambil mengoceh? Benar-benar keluarga impian bukan? Ya, benar, karena itu 'keluarga impian' maka itu hanya akan jadi 'mimpi' saja. Itu tidak terjadi di kehidupan nyata. Ya, mungkin ada, tapi bukan kehidupanku. Sekarang, rumah sudah tidak lagi menjadi tempat ternyaman dan penuh kehangatan seperti yang kurasakan dulu. Kini rumah hanya menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Aku telah kehilangan, dan rasa kehilangan ini telah membuatku takut untuk memiliki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines