Indifferent

Indifferent

  • WpView
    Reads 1,456
  • WpVote
    Votes 201
  • WpPart
    Parts 17
WpMetadataReadComplete Fri, Jun 26, 2020
Ada dua wanita yang sangat Zafran cintai di muka bumi ini. Pertama jelas adalah ibunya. Namun Allah mengambilnya ketika Zafran belum sempat mengucapkan kata maaf. Kehilangan ibunya adalah hal yang paling berpengaruh dalam kehidupannya. Semula, Zafran yang taat akan agama, sopan santun dan ceria akhirnya berubah. Ia berubah menjadi sosok yang dingin dan jarang sekali menampakkan senyum. Wanita kedua yang bertahta di hatinya adalah Zhafira. Gadis berparas teduh yang selalu mampu mengusik hatinya yang semula membeku. Namun, kembali takdir seolah mempermainkan nya. Zhafira, sama sekali tidak tertarik dengan dirinya. Akankah ia harus kehilangan keduanya? Amazing cover by : @key_sunshine🌼
All Rights Reserved
#8
zhafira
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Langit Untuk Laut
  • Muhasabah cinta (COMPLETED)
  • Ekstrovert & Introvert [SELESAI✔️]
  • The First
  • Zarah
  • Engkau
  • True Love?
  • ZAFRAN
  • Kamu Separuh Agamaku [TERBIT]

Maura Elvaretta Zahira, gadis ceria berambut panjang yang selalu tampak bersinar di mata orang-orang. Di balik senyumnya, ia menyimpan luka masa kecil yang belum sembuh-kehilangan ayah yang ia cintai dan ibunya yang menikah kembali. Meski rapuh di dalam, Maura tumbuh menjadi pribadi yang ambisius dan pekerja keras. Ia ceroboh, sering gegabah, dan tak jarang memainkan rasa percaya dirinya untuk menutupi ketakutan yang tak pernah ia akui. Lalu ada Mahzan Rafiq Al Muaffaq-siswa kelas dua SMA yang dikenal pendiam, dan tenang. Putra pemilik pesantren dan seorang dokter ini tumbuh dalam nilai-nilai agama yang kuat. Ia merupakan murid kebanggaan guru. Mereka dipertemukan di SMA. Dalam riuhnya masa remaja, Maura jatuh hati lebih dulu. Ia tak menunggu waktu terlalu lama untuk mengungkapkan perasaannya. Tapi Mahzan menolak-bukan karena tak ada rasa, melainkan karena ia tahu, cinta tak cukup hanya dengan saling suka. "Aku bukan tak ingin, Maura. Tapi kita punya Tuhan yang mengatur waktu. Dan saat ini, belum waktunya kita jadi satu."

More details
WpActionLinkContent Guidelines