"Gue udah nggak perawan."
"Terus?"
"Gue udah nggak perawan," katanya lagi seakan-akan menekan kalimat itu biar gue denger. Gue nggak nggak budek, ye. Dia mengulangi kalimat pembuka beberapa menit lalu. "Ya, lo seharusnya batalin perjodohan kita lah."
"Gue nggak masalah tuh," ujar gue dengan santai. "Lo udah nggak perawan kek. Lo udah pernah nikah terus jadi janda. Gue nggak masalah sama sekali. Asal, lo bukan istri orang aja. Lo single 'kan?"
Dia diam.
"Malah enak kalau udah nggak perawan. Lo lebih berpengalaman," tambah gue lagi karena dia masih menatap gue kagum. "Btw, gue suka cewek yang agresif. Kelihatan lebih hot."
[Akan diupdate secepat yang penulis bisa agar cepat tamat]
•
Demi kenyamanan Anda saat membaca, disarankan memfollow akun penulis terlebih dahulu.
•
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dalam cerita ini tanpa izin tertulis dari penulis. Semua yang ada dalam cerita ini murni hasil pikir penulis, maaf jika ada kesamaan nama, tempat, karakter, dan sebangsa itu. Selamat membaca!
Setelah satu tahun bertahan di pernikahan itu, Sabrina pada akhirnya memilih kabur ketika kebenaran tentang suaminya terungkap.
Sabrina ingin memulai kehidupan yang jauh berbeda dari kehidupannya yang sebelumnya. Gadis itu yakin bahwa suaminya, Detra tidak akan mencarinya karena pria itu tidak pernah mencintainya.
Namun, siapa sangka hari itu mereka bertemu lagi.
"Bukankah kamu pantas untuk diikat selamanya di ranjang kita karena berusaha kabur dari suami kamu, Sabrina?" Detra datang dengan penampilan yang jauh berbeda dari ingatan terakhirnya.
***