Setelah 2 tahun berpisah, perasaan nya masih sama, tidak berubah. Meskipun sudah di hajar kekecewaan, di rundung kesedihan dan di temani kepedihan, ia tidak pernah menyerah. Entah seberapa dalam ia menjatuhkan hati pada nya. Ia yakin bahwa dia lah cinta nya.
***
Jauh di sana, ia teringat kembali masa SMA nya. Bodoh. Itu lah kata yang tepat untuk mendeskripsikan dirinya. Cinta pertama nya yang dulu ia perlakukan di atas segala nya pun, rela ia tinggal kan.
***
"I just a sunflower, but i know you really need me".
Cowok itu menatap buku diary berwarna kuning dengan raut wajah yang sulit di mengerti. Lalu ia melihat foto kebersamaan nya dengan seorang gadis yang pintar menyembunyikan perasaan.
"Goblok". Umpat nya.
BAPER ALERT! Yang jomblo boleh baca, tapi awas bisa bikin jantung nggak sehat. HeHe.
Bagaimana jadinya bila panggung sandiwara balas dendam berubah menjadi panggung kisah cinta Romeo dan Juliet?
.
.
Bintang Bagaskara menjadi laki-laki pertama yang mengenalkan arti kata jatuh cinta pada Diana Candraya. Namun sayangnya, Bintang juga menjadi laki-laki pertama yang mengenalkan arti patah hati. Bila bagi Diana, Bintang adalah penawar dari semua rasa sakit akibat babak belurnya kehidupan, bagi Bintang, Diana tidaklah lebih dari ajang balas dendam.
Hidup Diana yang dulu abu-abu, kini mulai menjadi coretan pelangi. Semerah hati Diana yang bersemi ketika Bintang menjemputnya pertama kali di makam Liana. Sejingga batin Diana yang menghangat ketika Bintang menyatakan perasaannya pertama kali di hadapan seluruh guru dan siswa SMA Harapan. Sekuning sikap Diana yang malu-malu kucing ketika Bintang menjelama menjadi baymax dan mengacak-acak rambutnya gemas. Sehijau harapan Diana yang perlahan tumbuh ketika Bintang mengingatkannya sekali lagi tentang sederhananya bahagia, sesederhana segelas susu cokelat. Sebiru pedihnya luka Diana yang ditorehkan oleh Bintang. Dan seungu perasaan Diana yang campur aduk ketika Bintang menciumnya untuk pertama kali, sebagai janji bahwa ia akan mengembalikan kebahagiaan Diana.