Hate You! Love You!

Hate You! Love You!

  • WpView
    LECTURES 29
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Chapitres 1
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication sam., avr. 11, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Mots-clésdinaokta20
Ayah pergi, jauh dari kami. Ia bekerja di luar kota. Jauh dari pandang kami. Tapi Aku memaklumi. Semua itu untuk kami. Dia memang seorang pahlawan luar biasa. Di penghujung pekan. Ayah pulang, ayolah jangan buang-buang waktu. Aku ingin bersamanya. Suara seorang wanita terdengar di ponsel Ayah, meminta jatah nafkah? Selubuk tanya menyirat segalanya. Aku tak tau pasti tapi... Dua minggu kemudian Ayah dan Ibu benar benar bercerai, tanpa ku tau kenapa. Mereka merahasiakan semua. Lalu? Apa ini? seorang wanita mendatangi kami beserta anak lelaki seumuran denganku. Hanya menyampaikan satu kata yang tiada artinya bagi kami. Tapi... lelaki itu mencintaiku.. Tidak!! Dia sudah merusak segalanya. Bahkan Ayahku!
Tous Droits Réservés
#257
dina
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • TEOLOGI CINTA
  • Indah di Senyum Mu
  • Jovanka dan Abang Kembar
  • SELEPAS KAU PERGI (COMPLETED)
  • 𝙄𝙧𝙧𝙚𝙥𝙡𝙖𝙘𝙚𝙖𝙗𝙡𝙚 - Sehun x Yoona ✔️
  • " To Love ,To Lose "
  • Twins; Jevan-Nevan [TERBIT]
  • PLEASE,,,LOVE ME BOY!! (ON GOING)
  • Rumah baru untuk Ibu

Memilih jodoh tak seperti melempar dadu. Aku sudah super hati-hati, ketika akan memutuskan Ghani menjadi suamiku. Tetapi Tuhan punya rencana lain. Ketika Ghani dalam keadaan tak berdaya, koma dan amnesia. Aku jadi berpikir ulang. Semakin tak tega untuk mencampakkan begitu saja. Aku tak tahu, apa ini cinta atau bukan. Yang jelas rasa itu hadir mengikat hatiku. Ghani bagiku saat ini tak lagi seperti pakaian. Jika tak cocok, aku mengganti yang lain.Bahkan, hari demi hari aku tak ingin jauh darinya. Aku tak ingin sewaktu-waktu jika ia dipanggil-Nya, aku luput dari sisinya. Terkadang aku tak mengerti banyak hal tentang diriku sendiri saat ini. Sejak Ghani bernasib naas, aku merasa berdosa besar dan sulit untuk memaafkan diriku atas niat burukku dulu pernah menuntutnya bercerai. Kini, justru sebaliknya, aku seperti telah jatuh cinta untuk kedua kalinya, tanpa syarat, sampai tertawan, hingga berserah tanpa bisa melawan. Aku mengizinkan hatiku mengalir bersama keterbatasannya, tanpa alasan jelas, bahkan cenderung absurd. Ada rasa kasihan dan iba yang luar biasa. Seperti gaya percintaan kakek nenek yang telah menua dan renta. Terkadang kuberpikir apakah hubungan suami istri seperti ini yang ideal? Tak mudah lekang oleh pancaroba. Dibanding yang didasari hitungan untung-rugi dengan mengatasnamakan cinta? Yang tak kumengerti sampai saat ini, mengapa aku semakin takut kehilangan Ghani? Sampai aku tak mampu lagi mengindetifikasi perasaanku ke Ghani, apakah aku mencintai atau mengasihani?

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu