Bercumbu Dua Dunia

Bercumbu Dua Dunia

  • WpView
    Reads 615
  • WpVote
    Votes 29
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Apr 13, 2020
BRUKK!!! " punya mata nggak! Kalau jalan liat-liat. Makanan gue tumpah semua kan." Geram akbar,"eh maaf-maaf aku nggak sengaja, lagian salah kamu nya juga kenapa makan sambil jalan, kan gak boleh tau.Rasulullah SAW juga memerintah kan kita untuk makan itu tidak boleh berdiri apalagi sambil jalan."ucap perempuan berjilbab ungu nan anggun itu panjang lebar. Yang di ceramahi membelalakkan matanya, ya Akbar merasa di permalukan oleh perempuan itu. " Lo tu jangan sok suci! Liat aja pembalasan gue. Awas lo."
All Rights Reserved
#22
kolaborasi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Yosan Ananda
  • Berburu Kijang 1/2
  • [√] Memorabilia
  • KILLALFA
  • I Fellin Love With a Criminal [END √]
  • Caca
  • Harapan Bunga Terakhir
  • (v#1) - Black Qween
  • Rebirth of the Strongest Empress

❗ Cerita ini masih tahap Revisi. Kalau Berminat membaca silahkan, Perlu Vote dan Follow dari Pembaca 🙏🏻 ❗ Peringatan: Novel ini mengandung adegan dan karakter dengan sifat gelap yang tidak layak untuk ditiru. ❗ Catatan: Novel ini berisi tema-tema gelap, seperti kekerasan, manipulasi, Bahasa Yang kasar dan eksplorasi sisi gelap manusia. Yang mungkin tidak memicu kenyamanan (tidak cocok) untuk pembaca. Deskripsi Cerita : Liana duduk di tepi pantai, jari-jarinya bermain dengan pasir yang lembut. Angin laut berhembus sepoi-sepoi, menerbangkan rambut panjangnya yang indah hingga menutupi wajahnya yang polos. Ia berusaha menyingkirkan rambutnya dengan tangan yang berpasir, sedikit mengernyit karena pasir menempel di wajahnya. Tiba-tiba, Yosan menyodorkan sebuah jepit mutiara ke arahnya. Mata Liana membulat, menatap jepit itu dengan heran. "Ini jepit aku," katanya, suaranya sedikit meninggi karena terkejut. "Aku cari-cari pantesan gak ada, kamu ambil ya?" tanyanya, matanya menyipit curiga. Yosan terkekeh geli, melihat ekspresi bingung Liana. "Enggak," jawabnya, masih tertawa kecil. "Itu ketinggalan di tali tas ransel aku, waktu kamu jepitin di tas aku." Yosan mengambil jepit itu dari tangan Liana dengan lembut. Ia kemudian menyisir poni samping Liana yang panjang dengan jarinya, lalu menjepitnya dengan jepit mutiara itu. Ia menatap wajah Liana yang polos dan cantik dengan tatapan lembut, senyumnya mengembang. "Liana," katanya, suaranya pelan dan menenangkan. "Siapa yang berani buat kamu nangis? Bilang ke aku." Liana menoleh ke arah Yosan, mengangkat dagunya sedikit, menunjukkan ekspresi sombong yang menggemaskan. "Kalau mamah aku, gimana?" tantangnya. Yosan tersenyum lebar, "Wah, kayanya aku gak berani ngelawan Li," balasnya, "Karena aku gak bisa melawan ibu bidadari. Takut gak di restuin," tambahnya, sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Liana tertawa kecil.

More details
WpActionLinkContent Guidelines