Real dream

Real dream

  • WpView
    Reads 67
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 2, 2020
Seorang prempuan bernama olivia mampu membuat seorang pria tampan yang bekerja di salah satu rumah sakit , kagum dan jatuh hati kepadanya. " saya akan memperjuangkan kamu liv " ucap pria itu lembut. " tapi saya gak pantas untuk anda. Saya cuman seorang perempuan yang berasal dari keluarga yang tidak mampu" oliv memalingkan wajahnya seraya menutupi tetesan air matanya yang jatuh di pipi mulusnya. " Pergilah. mungkin garis takdir kita berbeda " " Baiklah saya akan pergi tapi satu hal yang harus kamu tahu saya selalu mencintai mu olivia anatasya dan saya tahu kamu juga mencitai saya selamanya " " Pergi!! "
All Rights Reserved
#222
rumahsakit
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jejak wasiat kakakku
  • Kuat Untuk Sebuah Patah
  • Dear.  Pak DIMAS ( Selesai )
  • Hello Dr. Jack
  • Reyna Aprillia
  • Love Is You (Tamat)
  • MAS, DOKTER AKU CINTA KAMU (TAMAT)
  • Waves Of Amour
  • Dijual Cepat Tanpa Perantara
  • Mr. Perfectly Fine [COMPLETED]

Namaku Alya. Dan aku tidak pernah menyangka bahwa langkah kakiku suatu hari akan menggantikan jejak perempuan paling kuat yang pernah aku kenal: kakakku, Alisa. Sudah hampir setahun aku tinggal di rumah besar bercat abu muda itu, rumah yang dulunya hanya aku singgahi saat libur semester atau ketika merindukan masakan kakakku. Tapi sejak Alisa divonis kanker paru-paru stadium lanjut, rumah itu menjadi dunia baruku. Aku memilih cuti kuliah, meninggalkan kosan kecilku di Jogja, dan kembali ke kota ini-demi merawatnya. Aku masih ingat hari ketika pertama kali datang kembali ke rumah itu. Anak-anak Alisa, Rani dan Dafa, langsung berlari memelukku. Rani sudah kelas dua SD, dan Dafa masih TK. Mereka belum tahu betapa besar badai yang sedang menunggu kami semua. Dan di tengah rumah itu, ada sosok pria yang paling jarang bicara: Rayhan. Suami Alisa. Kakak iparku. Ia selalu tenang. Terlalu tenang, bahkan saat Alisa harus masuk rumah sakit untuk ketiga kalinya bulan itu. Ekspresinya nyaris tidak berubah-datar, kaku, dan kadang membuatku bertanya-tanya apakah ia benar-benar mencintai kakakku atau hanya hidup berdampingan karena kebiasaan. "Mas Rayhan, teh hangatnya," kataku malam itu, sambil meletakkan cangkir di meja. Ia hanya menoleh sekilas. "Makasih." Lalu kembali tenggelam di balik layar laptopnya. Begitulah Rayhan. Ia tidak pernah kasar, tidak pernah marah, tidak pernah meninggikan suara. Tapi juga tidak pernah benar-benar hadir. Ia adalah tipe laki-laki yang, entah kenapa, membuat dada terasa sesak hanya karena terlalu hening. Sementara itu, kondisi Alisa kian memburuk. Berat badannya turun drastis, rambutnya mulai rontok karena kemoterapi, dan batuknya sering berdarah. Tapi ia tetap tersenyum. Tetap berusaha mencatat tugas-tugas sekolah Rani, tetap memeluk Dafa sebelum tidur. Suatu malam, saat aku menemaninya di kamar, Alisa mem

More details
WpActionLinkContent Guidelines