Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.
R.M.A.F

R.M.A.F

  • WpView
    Membaca 222
  • WpVote
    Vote 22
  • WpPart
    Bab 3
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sel, Mei 26, 2020
WpInfo
Fiksi
Fiksi Ilmiah
Ini adalah kisah persahabatan yang dijalin sejak remaja, adalah Al lelaki yang jika dilihat dari namanya mungkin menurut anda dia adalah orang yang tampan, cool, idola para wanita, juga pandai matematika, namun sayang itu semua salah, Al adalah remaja yang selalu telat datang ke sekolah, penampilannya selalu saja acak acakan, matanya pun sering merah, menandakan dia sering begadang, tapiii jangan remehkan dia, dia si genius yang tidak hanya pintar matematika, bahkan saat dia memiliki kemauan untuk mandi pagi, disanalah ketampanannya akan muncul, saat badannya tegap, anda bisa melihat betapa kekarnya badan Al, dan ada juga tiara, dia adalah sahabat Al yang paling tidak suka dengan Al, walaupun begitu mereka saling melindungi, tiara hanya tidak suka dengan Al yang sulit untuk serius, sedangkan Al tidak suka tiara karena terlalu serius, dan selanjutnya dia bernama mika, seorang gadis yang bersifat keibuan, dialah orang yang selalu mengeluarkan kata kata bijak, selalu menjadi penengah saat tiara dan Al bertengkar, dan satu lagi, dia adalah Fajar, si tangan dingin, dia tidak banyak bicara, sekalinya bicara masalah akan selesai, dia juga lah yang hanya bisa menenangkan Al hanya lewat tatapan datar, dia adalah sigenius bertangan dingin. Pada awalnya persahabatan mereka berjalan baik, Al yang sulit diajak serius, tiara yang selalu serius, mika gadis yang keibuan, dan fajar sigenius bertangan dingin, tidak ada yang berubah diantara mereka, berjalannya waktu, sungguh tak terasa, persahabatan mereka sudah hampir lebih dari 7 tahun, sampai suatu saat semua berubah, salah satu diantara mereka mendapat masalah, didalam persahabatan, satu sakit, maka yang lainnya harus berusaha menyembuhkan yang sakit, dan itu pula lah yang terjadi, Al, orang yang tidak disangka sangka, akhirnya dia mengeluarkan dirinya yang sebenarnya, dia berubah 180 derajat, dengan apa yang dia miliki, dia lah pemecah masalah yang sangat handal. Soo.... jika kalian penasaran, cek langsung ceritanya
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#731
ilmiah
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Capricorn
  • ALRICK [TAMAT-TELAH TERBIT]
  • ATHABEL (ON GOING )
  • Imaginary Boyfriend
  • Kukira Kau Rumah, Ternyata Hanya Tempat Singgah:)
  • Zeya transmigration (On going)
  • AR RAYZEN ARUTAMA
  • THE CLIMB [Completed]
  • ALISYA &Alvaro
  • BALADA KEHIDUPAN
Capricorn

"Aku suka sama Kak Al." Rea mengatakannya tanpa ragu. Tenang. Pelan. Tapi dalam dadanya, jantungnya berdebar seperti genderang perang. Lapangan basket sore itu sepi. Matahari sudah tenggelam separuh, menyisakan semburat jingga yang menggantung di langit. Angin membawa bau rumput basah dan suara tiang ring basket yang berderit pelan. Di tengah sunyi itu, Rea berdiri, seragamnya masih rapi, rambutnya dikuncir seadanya, dan matanya menatap Kak Al, lurus. Alvano menoleh, pelan. Keringat masih menempel di pelipisnya, dan bola basket tergenggam di tangan kirinya. Ia diam. "Apa tadi?" tanyanya, suaranya rendah. Tidak kaget. Tapi juga tidak menjawab. Rea menarik napas. Ia benci mengulang. Tapi kali ini berbeda. "Aku suka sama Kak Al," ulangnya, lebih lirih. "Dari awal aku lihat Kakak main di lapangan. Aku tahu ini mungkin... aneh. Tapi aku cuma pengen jujur." Ia tidak terbiasa berkata seperti ini. Tidak terbiasa membeberkan isi hati. Tapi Rea bukan pengecut. Ia adalah seseorang yang lebih takut menyesal karena diam daripada malu karena gagal. "Aku tahu Kakak mungkin nggak mikir apa-apa. Tapi aku cuma pengen bilang," lanjutnya. "Supaya kalau besok-besok aku canggung atau... ngelihatin Kakak diam-diam, Kakak tahu alasannya." Sunyi. Kak Al memutar bola basket di ujung jarinya. Lalu berhenti. Tatapannya tidak tajam, tapi ada sesuatu yang menggantung di dalamnya. Berat. "Rea..." katanya. Lembut. Tapi nadanya membuat dada Rea mengeras. "Kamu manis. Kamu juga berani. Tapi..." Rea mengangguk pelan, mencoba tersenyum meski wajahnya menegang. "Aku udah punya pacar." Deg. Rea tidak menangis. Tidak mundur. Tidak bertanya siapa. Ia hanya berdiri. Diam. Lalu berkata, "Nggak apa-apa, Kak." Yang tidak dia tahu, pacar Kak Al itu... adalah Dara. Kakaknya sendiri. Dan semuanya... baru saja dimulai.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan