RASA (Ternyata Bukan Mereka, Tapi Kalian)

RASA (Ternyata Bukan Mereka, Tapi Kalian)

  • WpView
    MGA BUMASA 915
  • WpVote
    Mga Boto 36
  • WpPart
    Mga Parte 36
WpMetadataReadKumpleto Sat, Oct 17, 2020
"Malam ini, kita dihadapkan dua peristiwa. Pertama peristiwa senang, kemudian peristiwa sedih." Pria itu menarik napas dalam-dalam. "Aku memang bukan dari anggota kelas kalian, bahkan bukan juga dari sekolah kalian." Rinjani menyalakan balon lampu minyak, yang akan diterbangkan nanti. "Aku adalah orang yang dekat dengan Rhea, tapi aku bukan pacarnya." Tatapan orang itu beralih ke Syiqa. Deg! Dugaan Syiqa benar, itu adalah orangnya. "Aku memberikan bunga ini kepadamu, bukan untuk menyatakan cinta." cih siapa juga yang berharap, batin Syiqa "Maaf, jika kata-kataku menyakitkan." Pria itu menggandeng Syiqa berjalan ke tengah. "Aku cuma ingin mengajak Syiqa dan kalian, berdoa untuk Rhea. Teman sekaligus orang spesial untuk kita." Suasana hening, dan balon pun diterbangkan satu per satu. "Rhe, ada teman-temanmu yang mendoakanmu disini, Rhe."
All Rights Reserved
#306
diterbitinclover
WpChevronRight
Sumali sa pinakamalaking komunidad ng pagkukuwentoMakakuha ng personalized na mga rekomendasyon ng kuwento, i-save ang iyong mga paborito sa iyong library, at magkomento at bumoto para lumago ang iyong komunidad.
Illustration

Magugustuhan mo rin ang

  • She Is not Cleopatra
  • Cuaca
  • 𝐒𝐄𝐈 𝐌𝐈𝐎 𝐒𝐒𝟏 [𝐒𝐊𝐘𝐍𝐀𝐍𝐈]
  • " To Love ,To Lose "
  • Tegas Sirgantara
  • RUMAH KECIL ITU by : Plavana
  • You're My Happiness
  • Save and Protect
  • THE FORBIDDEN ROSE

"Ketahuilah, apapun yang menjadikanmu tergetar, itulah yang terbaik untukmu! Dan karena itulah, kalbu seorang pencinta-Nya lebih besar daripada Singgasana-Nya."-Rumi ----- "Tuhan sedang menarikmu menuju apa yang menjadi rencana-Nya," ucapan itu membuat hatiku bergetar. Aku menatap mata coklat gelapnya sembari menahan perihnya darah segar yang mengalir di lengan kananku. Napasku tercegat saat aku menatap hanya debu dan pasir yang betebaran menutup arah penglihatanku. "apa kita bisa kembali?" tanyaku. Mata Zaidan menampakkan kilauan harapan seakan mengatakan "percayalah Tuhan akan mengirimkan seorang malaikat tanpa sayap untuk menolong kita" secara tersirat. Lantas ia mengangguk yakin menatapku. Aku terdiam saat suara itu terdengar jelas di telingaku, "طبيبة" teriakan itu menggema diantara puing-puing bangunan yang begitu memiluhkan. "Aisyah," panggilku memastikan. "ZHAFIRA!!! ZAIDAN!!!" "itu suara Yusuf," gumam Zaidan yang kubenarkan. "begitu dekat untuk meyakinkan hatimu akan bertahan kepada siapa." Aku terdiam tak menanggapi ucapan pria tampan ini. Hatiku kembali diragukan oleh perasaan cinta dan kekaguman pada makhluk-Nya. Ternyata benar apa kata Zaidan, bahwa Tuhan sedang menarikku menuju apa yang direncanakan-Nya. Dan kini adalah waktuku untuk menerima rencana itu dan memutuskan kemana hatiku akan berlabuh. ----- "Teruntuk dia yang ada dalam gemuruh porak porandanya padang pasir dan kisahnya, teruntuk seseorang yang melabuhkan perasaan dan melangitkan doanya dalam sebuah peradaban bumi para nabi. Aku hanyalah seseorang yang berusaha menjadi Kartini untuk menegakkan keadilan bagi perempuan dan menjunjung tinggi kedamaian di dunia. Aku tak memiliki banyak kekuasaan, karena aku bukan termasuk sederet perempuan sempurna Mesir dengan segala pesonanya. Aku bukan Cleopatra." -Zhafira Aisyah Farida-

Karagdagang detalye
WpActionLinkMga Alituntunin ng Nilalaman