YOU ARE STRONG

YOU ARE STRONG

  • WpView
    Reads 688
  • WpVote
    Votes 396
  • WpPart
    Parts 17
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Mar 26, 2021
Dara berjalan menuju ruangan dokter Rifky dia sudah memutuskan untuk pergi bersama Dokter Rifky. "Assalamualaikum dok,"Kata Dara lesu. "Walaikumssalam,Silahkan masuk,"jawab dokter dengan rama "Bagaiamana apakah kamu sudah berpikir?,". "iya saya sudah berpikir dan saya sudah yakin," Kata Dara dengan penuh keyakinan. "Bagaimana dengan orang tua mu?," Tanya dokter. >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> ¤¤HAPPY READING¤¤ >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
All Rights Reserved
#628
harapan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dokter Spesialis Mantan [ON GOING]
  • LOVE in SILENCE
  • Truth (Edisi Revisi)
  • Semesta dan Lukanya [TERBIT]
  • Senandika
  • MY DAUGHTER LOVE YOU! (On-Going)
  • Aluka (Proses Penerbitan)
  • Obat Untuk Luka | End
  • LUKA LIANA [Completed]

"Yang nggak pernah benar-benar selesai, justru yang paling susah dilupakan." - Nayyara Tujuh tahun. Itu waktu yang Nayyara habiskan untuk mencoba sembuh-dari luka yang bahkan tak sempat diberi penutup. Luka yang diam-diam ia bawa sejak bangku kuliah kedokteran, hingga kini menyandang gelar spesialis. Luka bernama Adrian Baskara-mantan yang pergi tanpa kata, tanpa perpisahan. Hanya hilang. Begitu saja. Sialnya ketika ia merasa telah pulih, semesta mengajak bercanda. Sebuah mutasi mendadak menjatuhkannya dari puncak karier di rumah sakit elit Jakarta ke pelosok desa di Jawa Tengah. Desa asing yang lebih percaya ramuan dukun ketimbang resep dokter, lebih patuh pada mitos ketimbang medis. Nayyara datang sebagai penyintas-asing, tersesat, nyaris patah. Tapi ia bertahan. Ia belajar hidup dari nol. Ia kira, itu sudah cukup berat. Sampai... Adrian muncul. Kini pria itu berdiri di hadapannya-dengan senyum sabar, tatap mata yang dulu menenangkan, dan seorang anak kecil yang tak sengaja memanggilnya, "Ayah." Nayyara ingin pergi. Meninggalkan desa ini. Menjauh dari kenangan yang kembali bernyawa. Tapi hati bukan peta yang bisa digariskan lurus-lurus saja. Luka lama belum sembuh, rahasia lama belum selesai. Dan pertanyaan itu terus menghantui: Kenapa Adrian pergi tanpa pamit dulu? Dan... kalau cinta yang lama mati ternyata belum benar-benar terkubur, bisakah Nayyara mencintai lagi-tanpa takut patah untuk kedua kalinya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines