BREATH
  • WpView
    Reads 56
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Apr 16, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Aku kira dengan merencanakan segala sesuatu pasti akan berjalan dengan lancar. Hingga aku bertemu dengan dia yang mengubah segalanya hingga waktuku terbuang sia-sia. Dia yang tak pernah ada dalam rencanaku selalu mengikutiku dan mengatakan hal yang mustahil antara aku dan dia. Bodoh. Menyadari aku akhirnya mengalah dengan diriku demi dirinya.. -Kirana- Dia selalu terlihat tegas, judes, kaku terhadap orang lain. Itu hanya topeng untuk menutupi ketakutannya yang seperti anak kecil. Di dalam keramaian ia terlihat linglung. Hingga membuatku ingin mengenggam tangannya agar ia tidak merasa sendirian. Tapi aku kini hanya bisa melihatnya dari kejauhan agar ia tidak terluka lagi -XXX-
All Rights Reserved
#37
breath
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kuas,Cat dan Cinta
  • MAID IN LOVE - BECKFREEN [SELESAI]
  • Everything Happens for a Reason
  • Just Be Friends [PROSES REVISI]
  • A Memory of You
  • Penjara suci
  • SalFlo
  • ALVIN (On Going)
  • Jika Nanti Aku Kembali
  • HSM 1: OLYMPIADS [END]

Aku bertemu degannya lagi. Ini sudah lama sekali, cukup lama untuk membuatku canggung untuk menyapanya. Sepuluh tahun yang lalu, aku gadis berkucir dua, dia anak yang berkaca mata. Sepuluh tahun yang lalu, aku adalah orang yang tidak memperhatikan wajahnya dengan teliti dan sekarang aku menyadari bahwa dia adalah pemuda yang tampan dengan mata yang menarik di balik kaca matanya itu. "Hallo !!" sapaku padanya. Dia menatapku dengan kening berkerut. Aku menjadi lebih canggung lagi karena dia tidak mengenaliku. Aku bukan gadis menarik, aku juga bukan gadis yang pandai mengawali pembicaraan ataupun mengakhirinya. Kalaupun dia mengenali aku, mungkin dia akan pura-pura lupa. "Hallo !" balasnya kemudian dengan senyum yang canggung. "Apa kau masih mengingatku ?" tanyaku dengan tatapan menyelidik ke arahnya. Hujan sore ini menahan dia, aku dan beberapa orang lainnya di depan toko yang tidak kutemukan papan namanya. Aku pindah dari kota ini ke luar negeri sepuluh tahun yang lalu tapi sekarang aku kembali dan temanku tidak mengenaliku lagi. "Kau siapa ?" dia balik bertanya dengan nada yang canggung ke arahku. Sudah kuduga, dia lupa tentangku. Aku menatap sekeliling, aku pasti akan terlihat sangat lucu sekarang. "Aku bukan siapa-siapa, lupakan saja" jawabku dengan santai lalu kuakhiri dengan senyum kecil. Aku lebih suka cara ini, aku tidak akan memaksakan seorang yang tidak lagi mengingatku untuk mengenalimu. Aku lebih butuh seseorang yang akan mengatakan hallo bersamaan denganku karena itu berarti kami saling mengingat. Aku menatap ke langit lagi, hujannya masih belum berhenti tapi aku menjadi orang yang pertama meninggalkan tempat ini.

More details
WpActionLinkContent Guidelines