Hemos actualizado nuestras Pautas de Contenido.
Consulta las pautas más recientes para seguir compartiendo historias de forma segura.
L U P A
  • WpView
    LECTURAS 87
  • WpVote
    Votos 7
  • WpPart
    Partes 2
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación sáb, ene 15, 2022
WpInfo
Ficción
Romance
"Kamu tunggu sini yaa," Ucapnya sambil meninggalkan ku "Iya, jangan lama-lama ya.. dingin :(" kata ku sambil mendekap tubuh mungilku sendiri "Iyaa, babai.." kata terakhirnya yang diikuti dengan menghilangnya bayangan dirinya. Sepuluh menit kemudian.. "Dia kemana si? Ko lama banget ya?" Gumam ku sambil melirik disekitar "Aku susul aja ah" lanjutku kemudian Ddrrrrttt dddrtttt Ddrrrrttt dddrtttt ------ Susul kemana ni? Susul ke bagian awal aja yuk! Semoga kamu menikmati ;) Thank u!! ------- Maaf kalau masih banyak kekurangan, saya hanya penulis gabut yang kemudian ingin membuat semua cerita ini menjadi urut.. Hwhwhwhw!
Todos los derechos reservados
#283
dingin
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • ALETA
  • Forever Alone (Sudah Terbit)
  • AILAH(END)✅
  • CLOSER
  • NATHA: AFTER SHE GO || ON GOING
  • Kakak Tingkat ✔ [COMPLETED]
  • Arsyilazka

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido