Dear Ananda

Dear Ananda

  • WpView
    Reads 23
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Apr 13, 2020
Namanya Ananda Demira Putri, atau teman-temannya akrab memanggil Mira. Tapi bagiku, dia adalah Ananda. Aku mengenalnya sejak ia lahir di bumi. Ibunya yang akrab ku panggil tante Flora adalah sahabat baik Ibu ku. Saat Ananda lahir ia sangat menggemaskan. Aku yang saat itu sudah menggunakan seragam putih biru jatuh cinta terhadap bayi mungil itu. Entah lah, mungkin awalnya hanya perasaan sayang, karena aku begitu mendamba seorang adik perempuan. Entah sejak kapan aku jatuh cinta kepadanya. Jelas aku mencintai Ananda sepanjang usia ku. Apapun aku lakukan untuknya, bahkan merelakan nyawaku untuknya pun aku siap melakukan. "Aku cinta kamu, meskipun kamu selalu menolak keberadaan ku dan menyangkal semuanya," bisik ku "aku tau ini sulit bagimu, menerima kenyataan bahwa aku lelaki cacat ini adalah suami mu." Sambungku mengelus pipinya pelan. "Maaf kan aku mas..." lirihnya, aku masih bisa jelas mendengar. Ananda andai kamu tau, tanpa kamu meminta maaf aku sudah memaafkan mu.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pelangi yang Telah Lama Hilang
  • Imamku Berondong
  • kenapa harus kapten basket yang jadi suamiku
  • KETIKA MANDA KETEMU WANDA
  • TAKDIR TERBAIK (TERBIT)
  • Luka dan Obatnya
  • Pilau Cinta Ayunda (Completed✓)
  • Merried
  • Coming Home (CABACA.ID)
  • TOUCHED (End)

"siapapun tante, adik ayah, adik bunda, tetangga atau simpanan ayah, aku anggap tante cuma benalu tau" ucapku memberi penekanan pada kata simpanan. Wajah Tante Dista terlihat terkejut. "heiii.."ia membentakku "ga pernah di didik ya sama bunda mu, ternyata bundamu itu ga becus jadi seorang ibu ya pantas saja ayahmu tergila gila pada ku" "kamu ga usah senang dulu, suatu saat nanti aku yang akan mengusirmu dengan tanganku sendiri" sambungnya Aku menyeringai "barusan kau buat pengakuan kan" tanyaku menatapnya jijik. Tante Dista terlihat kikuk. "hahaa..... Jadi kau memang simpanan ayah. Dan masih sanggup tinggal dirumah kami. Ga tahu malu"ucapku dengan penekanan di kata simpanan dan malu. "kauuu-"ucapnya tertahan ketika bunda mulai mendekati kami. Aku mendekat ke arah tante Dista tetap mempertahankan senyum palsuku. Menginjak kakinya dengan keras, dan pura pura mencium pipinya dengan mesra. Dia menjerit tertahan dan aku senang. Tanganku yang bebas menarik rambutnya yang terjuntai panjang. Dia meringis dan mencengkram tanganku kuat kuat. Bunda tak pernah tau itu. Bunda hanya tersenyum dan menganggap semuanya akan baik baik saja. Padahal aku dan tante Dista sedang menyiapkan strategi perang kami masing masing.

More details
WpActionLinkContent Guidelines