Senja, Malam dan Mentari

Senja, Malam dan Mentari

  • WpView
    Reads 19
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Apr 14, 2020
WpInfo
Non-Fiction
Sebuah kisah sederhana dari seorang gadis yang sederhana, memiliki keinginan untuk menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara. Dengan cara menuntut ilmu adalah salah satu jalan untuk memuluskan cita-citanya untuk tercapai. Akan tetapi, faktanya kerikil-kerikil kecil telah siap membuatnya menunduk seraya mengambil kerikil tersebut agar tidak menghalanginya jalan yang bisa saja membuat nya terjatuh. Kisah yang menceritakan perjuangan seorang perempuan dari awal hingga dia sedikit demi sedikit menggapai apa yang telah menjadi impian, jalan ilmu baginya sangat Mulya di sisi Allah hingga dengan begitu ringan ia melangkah oleh sebab itu. Pencarian demi pencarian ia selami, langkah demi langkah ia tapaki hingga dia berada di puncak dan memberikan apa yang selama ini dia inginkan. Segalanya tidak mudah, namun dia begitu percaya dengan apa yang Tuhan janjikan kepada nya yaitu kesuksesan. Syerli ananda, gadis kuat, tegar dan pantang menyerahnya melangkah dengan anggun diatas permadani ilmu untuk mencari keberkahan dan keridhaan Allah.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Elira, yang Tak Pernah Dipanggil Pulang
  • Langit Senja di Kota Nabi
  • "Di balik roda dan pisau"
  • kau tercipta dari tulang rusukku
  • KIAN | ✔
  • Raden Aluna | END
  • Awal Dari Cintaku
  • Garis Takdir Adinda (END) ✓
  • Dia dan Doa
  • Takdir cinta berawal masjid ( TAMAT )

Elira bukan anak biasa. Ia tumbuh dalam keheningan, dipeluk oleh kecerdasan yang tak dimengerti, dan tubuh yang selalu menjadi sasaran cemooh. Sejak kecil, ia tahu: dunia tak ramah, dan rumah bukan tempat berlindung. Ketika teman menjauh karena rasa tidak nyaman, dan ketika keluarga sendiri hanya melihatnya sebagai beban, Elira tetap berdiri. Ia tidak diantar saat pertama kali masuk pesantren. Tidak dijemput saat ia jatuh. Ia hanya ditemani satu hal yang tak pernah mencacinya: Al-Qur'an. Namun luka demi luka terus menggerogoti tubuh dan jiwanya. Hingga suatu hari, tubuh itu tak lagi kuat. Jiwa itu mulai retak. Tapi bukan kehancuran yang datang-melainkan cahaya. Di tengah kesurupan, sakit yang berulang, dan tubuh yang tak pernah benar-benar sembuh... Elira menemukan panggilan dari langit. Kisah ini bukan hanya tentang perjuangan seorang anak. Ini tentang bagaimana seseorang bisa tetap memilih untuk mencintai Tuhan, ketika tak ada satu manusia pun yang memilih untuk mencintainya kembali. ---

More details
WpActionLinkContent Guidelines