[COMPLETE]
Dalam hidup, selalu ada yang namanya jatuh, bangun, bangkit, patah, hilang, luka, tumbuh, kecewa, bahagia, dan gagal.
Tiap-tiap insan akan mengalami fase tersebut. Tinggal bagaimana cara mereka untuk tetap bertahan. Sebab, memang begitu misteriusnya cara kerja alam semesta.
Isyana yang tak pernah menyangka akan bertemu Inggita, Hana, Duta, dan Kelvien di bangku putih abu-abu, berhasil mengubah sudut pandangnya tentang kehidupan. Ia mulai belajar, jika kebermaknaan tertinggi manusia adalah ketika ia mampu bermanfaat bagi sesama. Menyatukan visi bersama keempat temannya, Isyana memulai aksi nyatanya. Menggunakan ilmu pengetahuan yang ia miliki, ia mulai belajar tentang seni Memanusiakan Manusia.
------
all reserved things by @diffean
Mei, 2020
Kelas F di mata penghuni sekolah :
1. Kumpulan anak dengan IQ jongkok.
2. Penghuni tetap ranking 20 terbawah di jurusannya.
3. Solidaritas dalam kelas nilainya F alias fana. Nyaris tidak pernah tercipta.
4. Trouble maker alias parasit sekolah.
5. Para pemilik masa depan kurang jelas.
Perihal pernyataan di atas fakta atau bukan, itu tergantung cara kalian memandangnya. Yang jelas, anak-anak itu tidak peduli, atau memilih untuk masa bodoh dengan penilaian manusia-manusia yang merasa dirinya lebih baik dari orang lain.
Mereka tidak peduli dengan nilai ulangan yang tidak mencapai KKM, dengan materi pelajaran yang diberikan guru, dengan PR yg harus dikumpulkan tepat waktu, dengan tata tertib dan aturan yang tidak boleh dilanggar, juga tentang ujian nasional yang katanya menentukan masa depan.
Hingga suatu hari, sang wali kelas terancam dipecat karena dianggap gagal mendidik mereka.
Hanya ada dua pilihan yang bisa dilakukan anak-anak itu.
Menjadi egois atau peduli.
°°°
A/n. Cerita ini ditulis sebagai salah satu bentuk kampanye #IndonesiaMembaca dengan bertemakan Teen Literature.
#TeenlitIndonesia @teenlitindonesia