True Drama Romance.

True Drama Romance.

  • WpView
    Reads 11
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 2, 2020
Tak kenal maka tak sayang, sudah kenal kok masih belum sayang? Shanindy Audy, berusaha keras mendekati teman sekelasnya itu, dengan penuh tekad dan usaha, Audy berharap ia akan memenangkan hati Joventus Dioh. Sayangnya Jovan -nama panggilannya- sangat membenci Audy, dengan alasan yang sangat terdalam. Akankah Audy yang bodoh dan petakilan ini memenangkan pertempurannya dengan Jovan? Akankah Audy mengibarkan bendera putih? Atau Jovan kah yang mengibarkan bendera putih? Atau ternyata semua mengalah untuk kepentingan masing-masing. Simak lebih lanjut. HASIL COLLAB SAMA TEMEN!! Enjoy gais! Typo Banyak! GaJe! Garing! Pure Imagination! Kritik dan saran diterima dengan lapang dada! Thnks! Hope u like it!!!
All Rights Reserved
#78
audy
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Don't call it love!
  • Story Of Putri [COMPLETED]
  • MODUS [Sudah Terbit]
  • Sweet Letter ✔
  • Mantanku Dosenku - END
  • Dosen Bucin (Sudah Terbit)
  • ADVINES [TERBIT]
  • REVAN [ON GOING]
  • "Gue Ganteng!!" (COMPLITED)
  • ADELYN & ARKAN

Semesta rasanya tidak berpihak pada Cyntia. Tidak hanya perusahaannya yang sedang berada dibawah roda kehidupan, tetapi neneknya sakit dan terus memaksanya menikah. Orang yang ia cintai dan mencintainya pun hilang tak ada kabar. Tak ada pertolongan rasanya. Pada akhirnya pilihan terburuk muncul. Ah, mungkin tak bisa disebut pilihan. Ia harus melakukan itu dengan terpaksa. Pria yang melukiskan kehidupan kelamnya pun muncul. Konyol rasanya saat pria itu mengajaknya menikah. *** Aku tak tahu apa itu cinta. Bahkan, saat ini bagiku itu satu kata yang abstrak luar biasa. Baginya rasa yang terasa itu cinta, tetapi mengapa rasanya merusak jiwa raga. Bagiku itu bukan cinta, melainkan suatu rasa yang amat hampa. Akhirnya satu kata menjadi beda makna. "Bukankah kau sangat membenciku?" Tanyaku. Ia diam, tanpa menatap mataku. Secara tak sadar aku tersenyum sinis padanya dan aku berusaha menahan rasa kesalku. "Apakah melemparkan susu basi ke wajahku adalah bentuk rasa suka?" Aku mengungkit masa lalu. Matanya pun mulai menatap mataku. Aku takut dengan wajah itu. Di bawah meja tersembunyi tangan gemetarku. Mataku berpura-pura tegar saat bertemu matanya itu. Aku berusaha bicara meski lidahku terasa kelu. Aku berusaha berdiri tegak meski kakiku tak berdaya. Waktunya pergi dari hadapannya. Aku akan katakan terakhir kalinya. "Jangan sebut itu cinta!" "Aku melamarmu bukan karena cinta. Bukankah, seharusnya kau yang memohon padaku agar kita bisa memanfaatkan satu sama lain?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines