Suffering the twins [ HIATUS ]

Suffering the twins [ HIATUS ]

  • WpView
    Reads 213
  • WpVote
    Votes 18
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 31, 2020
"Mungkin aku seorang kakak yang egois"-N. "Aku memang tidak mengerti perasaan kakakku,tapi aku hanya memohon agar dia terbuka"-Y. "aku membenci sifatnya,tapi aku sayang orangnya"-A. "Jika aku dapat merubah sifatnya,aku akan sangat senang"-S. "Aku memang seperti anak kecil yang selalu menyusahkannya"-S. "Aku selalu berpisah dengan kalian,karena aku menjalankan sesuatu agar kalian benar-benar yakin kalau aku menyayangi kalian"-S. "Aku bukan adik kandungnya,tapi aku sangat sangat sangat menyayanginya"-O. Apa benar?hanya sebuah kesalahan dari dua orang tuanya,ia sebagai kakak tertua yang dulu terkenal friendly,baik,penyayang dan penyabar sampai merubah 180° sifatnya?. Bahkan bukan saja dirinya,tapi adik kembarnya juga. Kisah 7 kembar yang memiliki masalah dengan keluarganya,mungkin selamanya kalau kakak dan adik dinginnya itu tidak terbuka. Bahkan,karena masalah itu sampai merenggut nyawa dari mereka bertujuh karena seseorang yang dendam dengan ibunya. Dan itu membuat sang kakak tertua semakin benci padanya. Tapi bukan hanya itu kesalahan sang ibu,banyak.Hanya saja yang mengetahuinya hanya ia dan salah satu adiknya,meskipun adiknya tau karena penyelidikannya sendiri. Penasaran?langsung baca aja deh Vote?iya dong biar author semangat. Happy reading^^ #Nocopymystory
All Rights Reserved
#512
adikkakak
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat
  • ALEYA~~
  • LIGHT
  • LOVE THAT GROWS FROM FRIENDSHIP || {Jeongminji}
  • My Cold Brother✔
  • Chika's Other Side [ END ]
  • My Bromance [18+] End
  • Bukan Cerita Kita
  • Always Okey

"Kamu harus mendapatkan nilai sempurna." Ucap papaku dengan suara tegas, seolah-olah aku tak punya pilihan selain menjadi sempurna di matanya. "Kamu harus selalu mengalah dengan kakakmu." Ucap mamaku tanpa ragu dan menuntut. Bagi mama, akulah yang harus mengerti kakak dan mengalah jika bertengkar dengan kakak entah kakak yang benar atau salah. "Ini semua salahmu! Andai saja aku tak memiliki adik sepertimu!" Ucap kakakku dengan mata penuh kebencian, seakan keberadaanku adalah kutukan yang merusak hidupnya. "Kakakmu itu sudah sangat menderita, jadi kamu harus mengerti dia." Ucap nenekku, seperti akulah yang membuat kakak semakin menderita. "kamu mah enak! kamu pintar dan punya orangtua kaya!! Ga ada yang kurang dari hidupmu." Ucap salah satu teman perempuanku dengan nada iri, tanpa tahu betapa sepinya hidupku. "kamu beda banget sama kakakmu ya. Kakak mu cantik banget, tapi kamu? Jelek parah." Ucap salah satu teman laki-lakiku sambil tertawa, seolah aku hanyalah lelucon menyedihkan di matanya. "Terima kasih... Kamu selalu menjadi pendengar yang baik." Ucap sahabatku dengan nada lembut, tapi entah kenapa kata-katanya terasa seperti pengingat bahwa aku hanya ada untuk mendengar, bukan untuk didengar. Lalu, kakek menatapku. Matanya teduh, penuh kasih, berbeda dari yang lain. "Apa kamu benar-benar baik-baik saja, cucuku?" Ucap kakekku, satu-satunya suara yang terdengar tulus di antara semua itu. Aku ingin menangis. Aku ingin berteriak bahwa aku tidak baik-baik saja. Aku ingin mengatakan bahwa aku lelah, bahwa aku tak tahu harus bagaimana lagi. Tapi aku tersenyum lebar pada kakekku. Aku menahan air mataku agar tak jatuh, karena aku tahu... air mata tidak akan mengubah apa pun. "Aku baik-baik saja." Ucapku dengan nada ceria yang ku paksakan, seperti biasa. • Hasil karya sendiri • bahasa baku dan non baku • maaf kalau ada kesamaan tempat, nama, dsb dalam cerita *** Happy_Reading ***

More details
WpActionLinkContent Guidelines