Waiting
  • WpView
    Reads 243
  • WpVote
    Votes 18
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Apr 29, 2020
Isak tangisnya mulai terdengar dan kausku mulai basah dengan bulir air mata. Hujan diluar pun terdengar makin deras, kaus tipis ini membuat tubuhku tetap menggigil. Tak ada kehangatan dalam pelukan saat itu, entah mungkin karena hatiku ikut menjadi dingin ketika dia yang ku cintai kembali bercerita tentang orang lain. Tanganku menepuk-nepuk bahunya. Aku belum berani memberi jawaban dan komentar. Aku hanya ingin mendengar dia bicara, aku ingin mengetahui seberapa parah lukanya apakah separah yang aku rasakan. Melihat dia menangis, tapi tak bisa berbuat banyak rasanya aku ingin meledak. Selalu dia menumpahkan tangisnya dibahuku, sementara baru kali ini aku seolah membasahi hatiku dengan air mata yang tak berwujud air yang keluar dari mata. Aku masih sanggup menahan diri, masih bisa berakting sempurna. Tapi didalam sini kami sama-sama sedih. Tapi kami menangisi hal yang berbeda. Tidak, aku tidak mengeluarkan suara dan masih tak ingin memberi dia solusi, apalagi alasan. Aku hanya menyediakan telinga dan hatiku. Meraba-raba hatiku sendiri dan hatinya, apakah luka yang diberikan wanita itu sungguh sangat dalam? Bukankah wanita itu selalu melukainya? Harusnya dia sudah terbiasa dengan luka itu layaknya aku yang terbiasa dengan luka yang dia berikan. Bibirku terkunci. Aku mencoba memberi sedikit gerakan agar dia meregangkan pelukan, tapi dia menariku semakin erat sampai nafasku sesak. "Kamu bosan sama ceritaku?" Tidak aku tak ingin menjawab. Aku biarkan dia terus meracau dalam rengkuhan yang semakin erat. Kurasa tak ada yang perlu lagi untuk dijelaskan. Seberapa panjang kata yang kulontarkan belum tentu membuatnya paham. Aku diam, membiarkan isak tangisnya terdengar lebih kencang daripada isak tangis hatiku sendiri. Ku tepuk-tepuk lagi bahunya, seakan memberi isyarat bahwa semua akan baik-baik saja dan semua akan kembali seperti semula. Seperti biasa.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dandelion [Completed]
  • Di Antara Kita (END)
  • Vericha Aflyn ✔️
  • I WHO FALL IN LOVE to you
  • Effort 2 [ Completed ]
  • JUST BE MINE [END]
  • Aerilyn
  • Misunderstand
  • ON SIGHT (Completed)

"Makasih lo udah mau balik lagi setelah lo pergi tanpa kabar." ujar Reno setelah beberapa menit terjadi keheningan. Elisha tersenyum miris. "Gue pergi karena lo pergi lebih dulu dari gue." jawab El. Reno memejamkan matanya. Mengutuk dirinya sendiri atas kesalahannya dulu. "Maaf... Tapi gue gak pernah minta lo buat pergi." ucapnya penuh sesal. "Terus lo mau gue apa? Nunggu lo dengan semua kenangan indah yang terasa menyakitkan karena lo gak lagi ada disamping gue? Mana janji lo buat selalu ada disamping gue waktu itu?" ---------------------------------------- "Kalo kata 'Fiersa Besari'; terkadang seseorang melepaskan: genggaman tangannya saat hidupmu semakin sulit agar tanganmu bisa digenggam oleh seseorang yang tidak akan pernah melepaskanmu. Mungkin dia juga kaya gitu. Dia ninggalin lo, karena mungkin dia percaya kalo lo bisa bahagia sama orang lain." ujar Vion. El diam membisu, mencoba mencerna ucapan Vion. "Gue juga gitu El. Gue juga rela lepasin lo. Bukannya gue gak percaya kalo gue bisa bahagiain lo. Tapi karena gue percaya kalo lo bisa bahagia sama Reno." batin Vion. ---------------------------------------- Tentang kisah yang berakhir tanpa duga. Pun tentang kisah yang berakhir bahagia, namun penuh luka. # 1 in Vion (07-04-19) # 2 in Yosi (07-04-19) # 3in rekomendasiwattpad (13-04-19) # 13 in dandelion (07-04-19) # 28 in sosweet (07-04-19) # 28 in janji (09-04-19) R 15+ Jangan lupa follow akun author :-) Ig:@ima.asnr Wp:@imaASNR Wa:085725678998 Salam manis dari penulis amatir -ima

More details
WpActionLinkContent Guidelines