INIZIO

INIZIO

  • WpView
    Reads 5
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Aug 12, 2020
Sebagai seorang pemimpin yang telah serah terima jabatan Lurah dalam satu ekstrakulikuler, tak hanya sebuah nama. Andovi Saladante Alberd dan Salsabilah Rayudha Perdana, resmi menjadi Pa Lurah dan Bu Lurah. Memang aneh seorang anak berusia 17 tahun dipanggil Bapak dan Ibu oleh anggota ekstrakulikuler Passus. Saking anehnya, banyak orang lain juga yang bukan anggota ekskul Passus juga memanggil Pa dan Bu. Tidak mudah menjadi seorang Pa Lurah dan Bu Lurah, hingga Andovi dan Abil memutuskan untuk mengerti satu sama lain dan menjalankan berbagai perkejaan dengan berkerja sama. Ini bukan kisah cinta antara Pa Lurah dan Bu Lurah awal benci jadi rindu. Namun hal tak terduga yang datang dari senior ekskul mereka, Abigail Melfisyari. Ikuti cerita nya, kalian tak akan rugi membacanya...
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jomblo di eskul Pramuka
  • welcome to the month march
  • LOVE SPRINGS UNDER THE RAIN
  • Ummi dimana Abi? [ENDING]
  • Al Fahri
  • YOU ARE MY HEART || MR Ardianto [END]
  • Call Me Papa, Della!

"Mulai hari ini kamu ibu masukkan ke dalam eskul pramuka, bahagialah!" Entah kenapa di akhir kalimat, pengucapan ibu Fatimah begitu menekan ke dalam jantungku. "Tung--Tunggu dulu bu. Saya belum pernah menyetujuinya" "Apakah itu harus?" Nada dingin dan sentuhan tangan beliau langsung menjalar ke urat nadiku "I--itu tergantung dengan situasi dan persepsi dari--" "Mana jawabanmu?" "Baik bu" Sial... Kenapa mulutku tak memikirkan nasibku yang akan datang. "Yaah, ibu tau kamu malu kok" (Bu! Hentikan omong kosong anda) Begitulah kalau aku punya nyali untuk mengucapkannya. "Nandi, mulai hari ini, dia bergabung dengan eskul pramuka" Ibu Fatimah mendekati seorang wanita yang dari tadi memperhatikan kami. Kalau aku bilang, lebih seperti seorang anak kecil sedang memperhatikan anak kecil lainnya yang sedang dipaksa oleh orang yang lebih tua. Entah apa yang mereka bisikkan di sana, tapi aku yakin, pasti itu bersangkutan dengan privasi yang kujaga lebih dari apapun. "Dimas, Nandi juga setuju dengan ini. Jadi kau sepulang sekolah bisa langsung ke ruang pramuka nanti" Lalu beliau tersenyum. Entah kenapa senyuman tersebut mempunyai maksud yang berbeda dari apa yang dia katakan sebelumnya "Jangan kabur ya..."

More details
WpActionLinkContent Guidelines