Between Fake and Lie

Between Fake and Lie

  • WpView
    Reads 118
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 17, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
Terlalau banyak masalah yang mempersempit langkah gue. Rasanya, gue udah hampir bosen kelayapan di bumi. Kalau aja bisa, gue mau banget tuh pindah ke suatu dimensi yang sepi dan tenang.Tapi jangan deh,nanti gue jadi nggak bisa ketemu sama Suga he he. Ya, sebenernya bisa aja sih tapi cuma... halu, wk.. Wk.. Wk.. Gue cuma seorang cewek multi fungsi yang sering diabaikan. Di anugrahin satu temen super julit yang bawaannya pingin mengumpat terus setiap ngadepin sikapnya yang super unik . Kadang, gue emang suka nyesel sih temenan sama dia tapi justru karena cara temenan kira yang gak biasa yang ngebuat kita bisa selalu ngakak bareng every day every time. Bukannya sombong nih, bisa dibilang gue itu lahir dari keluarga sultan yang hidupnya serba ada. Tapi nggak tau kenapa, gue gak terlalu tertarik sama semua itu . Gue lebih suka cara yang beda buat menikmati masa remaja gue. Jadi penghalu akut, seniman selengekan, and savage girl.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  • My Bad Boy Berondong (Lengkap)
  • ASSYA (TERBIT)
  • The Number You Are Trying to Reach is Not Reachable
  • Annoyingly yours: Duplikat (one Soul, Two Devils)
  • Love's illusion
  • Are You The One Tied to Me?
  • Cinta Berbentuk Persegi [END]
  • Bahagia Ku Dikala Senja
  • Cinta Itu Polos?

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines