I Love You, Ars!

I Love You, Ars!

  • WpView
    Reads 10,578
  • WpVote
    Votes 847
  • WpPart
    Parts 31
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Apr 23, 2021
PRANG! Aku melemparkan piring dan gelas di hadapanku yang masih berisi sandwich dan teh hangat. Biarlah. Aku suka ini. Aku suka ketika hatiku yang sedang bergemuruh mendapatkan 'teman'. "Ars, dengerin aku dulu ...." "Cukup!" Napasku terengah. Entah berapa banyak tenaga yang sudah kuhabiskan untuk memporak-porandakan isi apartemen. Aku tak peduli. Evan merangkul bahuku. Aku mencoba berontak, dan berhasil. Lalu terhempas duduk ke atas tempat tidur. "Jangan sentuh aku!" Evan menekuk lutut, memohon di hadapanku. Aku menutup kedua telinga. Sungguh, tak ingin mendengar satu kata pun kedustaan yang ke luar dari mulutnya. "Ars ...." "Jangan bilang kamu nggak kenal sama perempuan itu! Aku tau siapa dia! Aku tau!"
All Rights Reserved
#142
kiss
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • melody dan hujan yang jatuh di bulan april  { TAMAT}
  • Nothing, But You...
  • TELL ME SOMETHING I DON'T KNOW (ON GOING)
  • this is me
  • Wrong Dream
  • Round and Round [COMPLETED]
  • TERJERAT CINTA TUAN POSESIF (TAMAT)
  • Emotion Love
  • [ E N D ] Bandung dan Kenanganku Tentangmu
  • iL Legame (tamat)

Bab 1 - Senin yang Terlambat Senin pagi. Hujan tipis mengguyur kaca jendela kamar Melody, menciptakan irama lembut yang justru membuatnya makin enggan beranjak dari kasur. Jam sudah menunjukkan pukul 07.13, dan kelas pertamanya di kampus mulai pukul 07.30. "Melody!" suara Ibu terdengar dari dapur, setengah berteriak. "Nanti telat lagi, lho!" Dengan enggan, Melody menarik selimut dari tubuhnya dan duduk di tepi ranjang. Rambutnya berantakan, mata masih setengah terbuka, tapi kepalanya sudah dipenuhi daftar tugas kuliah dan drama organisasi yang menunggu di kampus. Di halte dekat rumah, ia berdiri sambil memeluk jaketnya yang tipis. Udara dingin membuat hidungnya memerah. Saat itulah, seorang cowok dengan hoodie abu-abu dan earphone di telinga berdiri di sebelahnya. Wajahnya biasa saja, tapi ada sesuatu dalam sorot matanya-tenang, tapi tampak seperti menyimpan banyak cerita. Ia menoleh sebentar ke arah Melody, mengangguk singkat. "Hujannya enak, ya," katanya tiba-tiba. Suaranya dalam, tapi tidak berat. Melody cuma mengangguk sambil sedikit tersenyum. Bukan karena ucapannya, tapi karena ini pertama kalinya ada orang asing yang membuka obrolan dengannya pagi-pagi buta begini.

More details
WpActionLinkContent Guidelines