When the Wind Blows

When the Wind Blows

  • WpView
    Reads 284
  • WpVote
    Votes 28
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 6, 2020
Teruntuk dia penyimpan luka; Pemilik bentuk mata seperti kacang almond dengan senyum secantik Dewi Afrodit. Manusia memang lihat dalam memakai topeng. Luka yang tergores akan meninggalkan kenangan paling pahit, membekas dalam pengingat akan kekuasaan waktu sebagai pertanda. "Bukan hal atau peristiwa tertentu yang meresahkan kita, tapi persepsi akan hal-hal dan peristiwa tersebut." (Epictetus, hal. 95) Tentangmu tidak akan terhenti di penghujung, akan ada penghujung lain yang menyambungkan ke dalam cerita baru. Katamu, akan lebih baik jika aku menjadi pemilik cerita itu. Mari, kita duduk bersama di bawah langit malam yang menjulang tinggi tentang keindahannya dan sebuah balutan selimut yang menutupi tubuhmu agar tetap hangat; aku minta agar kamu mengosongkan pikiran terlebih dahulu sebelum membaca kisah yang tak seindah kisah para pengagum rasa.
All Rights Reserved
#184
diterbitinclover
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • RUANG DEPRESI [ END ]
  • Some Kind of Love [DISCONTINUED]
  • Vericha Aflyn ✔️
  • Perihal Waktu [ REVISI ]
  • Regrets of Love
  • Tulisan Sastra✔
  • LOST MY BREATH (ON GOING)
  • You Are Mine [Terbit]
  • 00.00
  • Laura Dan Leo

"Tolong ceritakan padaku, bagaimana rasanya mempunyai keluarga yang utuh? Tolong jelaskan padaku, bagaimana rasanya hidup tanpa setitik luka yang menerpa! Aku ingin bahagia seperti mereka! Walau hanya satu kali saja!" Cinta dan Luka sama-sama Zeline rasakan, tetapi luka itu hadir lebih unggul daripada rasa cinta yang nyata, bukan hanya omong kosong tidak berguna saja. Ruang Zeline sepi, ruang Zeline kelam, bantu Zeline keluar dari ruang depresi. Zeline tidak pernah merasakan, bagaimana rasanya disayang, dimanja, dan diperhatikan. Hari demi hari, detik demi detik, yang Zeline nanti yaitu perdamaian kedua orang tuanya. Zeline merasa banyak kurangnya, Zeline menginginkan ketulusan yang sebenarnya, bukan hanya kata permainan perasaan saja. Sejak kecil, beranjak remaja Zeline menyaksikan perseteruan itu masih saja terasa. Rasa sesak terasa di dalam dada, seketika atmanya mulai merasa bahwa diri ini tidak ada apa-apanya. Bahkan sampai nafas berakhir sekalipun, Zeline akan terus berusaha untuk menerimanya, sampai Sang Maha Kuasa berkata. "Waktunya beristirahat dengan tenang." Ditulis oleh: CALGHIFARI Start: 25 November Finish: (?)

More details
WpActionLinkContent Guidelines