Rumah-ku

Rumah-ku

  • WpView
    Membaca 12
  • WpVote
    Vote 4
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Kam, Apr 16, 2020
Dulu waktu saya kecil, saya memiliki banyak cita-cita. Jadi Astronot, jadi koki, jadi selebritis, dosen, guru, penyanyi, musisi, pelukis, penari, seniman, dokter, every thinks I want. Tapi sayang disayang. Kedua orang tua saya hilang entah kemana saat saya duduk di bangku SD. Rumah, mobil, harta dan semua kekayaan yang orang tua saya miliki, disita oleh bank. Mereka berasumsi semua harta kekayaan orang tua saya milik bank. Saya sangat kecil untuk mengerti hal tersebut. Ntah lah, saya menjadi gelandangan setelahnya. Dibesarkan oleh kerasnya jalanan. Mencuri, dicuri, diusir, tidur di kolong jembatan, di depan kios, dimanapun, dengan catatan saya harus bangun sebelim pemilik toko datang, Atau nayarannya adalah kata makian dan tidak jarang diiringi siraman air. Entahlah soal makanan. Mendapat sisa di tong sampah saja bagaikan menerima hal intan yang banyak. Karena bukan hanya saya saja yang mengalami hal tersebut. Banyak orang yang kurang beruntung mengalami nasib yang sama dengan saya, mungkin lebih parah. Dijalanan, yang memiliki kekuatanlah yang mendapat semua tong sampah. Bisa anda pikirkan betapa sulitnya hidup bukan? Ok, nama saya Arsel, saya akan sedikit menceritakan kisah hidup saya. Kerasnya hidup dijalan, manisnya kebersamaan, pahitnya perpisahan dan penghianatan, dan sedikit cerita cinta.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#138
sosial
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Sadness
  • New Possessive Family
  • ALRIN
  • T E R B U N U H   S E P I  || Z W E I T S O N •• U N 1 TY || E N D
  • Buku Ini Gak Konsisten, Tapi Ya Sudahlah
  • Hai, Kak! (END)
  • sraddah (on going)
  • My Duchess / End
  • Sehari Untuk Selamanya
  • A R S E A N A
Sadness

Aira menatap kearah jam dinding kamarnya, ini sudah jam 1 malam pikirnya. Sudah terlalu lama Aira menatap layar komputernya menyelesaikan tugasnya. Matanya sudah lumayan berat. Ia memutuskan untuk menghentikan kegiatannya. Aira itulah nama yang diberikan orangtuaku sejak aku kecil. Kedua orangtuaku mengharapkan jika nanti aku sudah tumbuh dewasa kelak menjadi orang yang sangat disegani oleh setiap orang. Namun harapan kedua orangtuaku pupus ditengah jalan. Ketika aku menginjak usia 12 tahun kedua orangtuaku meningggalkanku akibat kecelakaan pesawat. Mau tidak mau aku harus mandiri dan tinggal ditempat omaku yang super bawel. Tapi dengan sikap kebawelannya itu membuatku sangat rindu padanya. Setelah aku tamat SMA aku memutuskan untuk tinggal dikota jauh dari omaku yaitu kota Denhaag, Belanda. Aku asli orang medan dan dibesarkan dimedan pula. Tetapi pada saat aku lulus SMA aku mendapatkan beasiswa dari sekolahku untuk melanjutkan pendidikanku di Belanda. Sudah tiga tahun aku tinggal dikota ini. Kota yang sangat menyenangkan. Sendiri meniti karier. Bekerja sambil kuliah disalah satu café yang sangat dikenal dikota ini "Hancook Café" itu lah nama Café yang sangat terkenal disini. Aku termasuk orang yang beruntung bagaimana tidak sudah kuliah dengan beasiswa dan kerja pula ditempat yang sangat terkenal disini. Untung saja café tempat aku bekerja tidak terlalu jauh dari tempat kostanku. Jika banyak tugas kuliah aku bisa mengerjakannya sambilan ditempat kerjaku.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan