Manusia di Bumi

Manusia di Bumi

  • WpView
    Reads 403
  • WpVote
    Votes 40
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Oct 3, 2020
Seiring dengan waktu si biru seolah-olah mengetahui Biru berganti kelabu terkadang cenderung menghitam Bumiku kau merasakan Merasakan apa yang selama ini aku rasakan Semakin menua seiring berkurangnya usia Semakin liar seiring perkembangan Tumbuh subur dengan pupuk kezholiman Amukan-Nya membuat mati kutu Sesaat? Iya hanya sesaat, begitulah sifat manusia di bumi Berulang kali mendptkan miscoll dari-Nya Selalu dibalas dengan acuhan yang angkuh Tinggi hati selalu ditegakkan Sombong yang menjulang tinggi Mungkin lupa Lupa akan posisi diri Lupa akan t4 tinggal Bumi? Hanya persinggahan sementara Bukan tempat tinggal Melainkan tempat meninggal manusia Lantas dimana akan bermuara? Di tanah yang banyak predator siap memangsa Lantas sampai kapan ego bermain Halusinasi yang selalu bermain Irama keanggkuhan selalu dilantunkan Bukan itu seharusnya Persiapkan bekal terbaik sebelum menghadap ilahi Keluarlah dari tempatmu Tempat yang belum tentu aman untuk kau pertahankan
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hanya Rindu Dan Trauma
  • Why Do You Love Me [COMPLETED]
  • Disturbances (End)
  • 콧노래 From Fit
  • laut yang membawanya pergi (END) ✓
  • Printemps

Aku hanya rindu bukan cinta hanya karena trauma ini aku tak lagi mempercayai lagi apa itu arti cinta jangan memulai dengan membawa luka lama, kembali lah dengan versi terbaik dan luka itu benar-benar kau sembuhkan dengan waktu ./ deary .. Dalam senyap malam yang kelabu, Rindu menyelinap seperti bayang, Mengisi ruang hati yang kosong, Mengusik luka yang belum sembuh. Rindu itu, seperti angin sepoi, Menyentuh lembut namun menusuk, Mengingatkan pada senyum yang hilang, Pada tawa yang kini tinggal kenangan. Trauma itu, seperti duri, Mengakar di dalam jiwa yang rapuh, Menggores setiap ingatan, Menghantui setiap detik yang berlalu. Malam-malam panjang tanpa bintang, Kusandarkan hati pada sepi, Menganyam harap di antara kelam, Berharap rindu dan trauma berakhir. Namun, rindu tak pernah lelah, Terus mengalun dalam hening, Sementara trauma tetap berbisik, Mengiringi setiap jejak langkahku. Dalam pertemuan bayang dan luka, Ku mencari cahaya di ujung jalan, Meski perih, meski berbalut duka, Aku percaya ada akhir dari rindu dan trauma.

More details
WpActionLinkContent Guidelines