Teruntuk Tala Amora,
Maaf, saya menggunakan kertas sebagai media atas pembicaraan terakhir kita.
Surat ini ditulis oleh Naba Sabiru, atau seseorang yang sering kau panggil "Bas", juga seseorang yang menyayangimu, seseorang yang suka memperhatikanmu, seseorang yang ingin menjagamu selamanya. Tapi tidak bisa, karena itu surat ini ditulis, jika saya masih bisa melakukan itu, sampai kapanpun saya tidak akan mau menulis surat ini, karena surat ini saya buat setelah saya tahu bahwa saya punya cancer dan sudah stadium 4. Saya minta maaf, karena diakhir pertemuan saya membuatmu marah, saya membuatmu marah pada kenyataan, kenyataan bahwa saya harus meninggalkanmu.
Tala Amora, kau adalah gadis yang kuat, kuyakin kau bisa mengatasi bipolar itu dengan sangat tangguh, jangan menyerah, terus ikut teraphy walau tidak dengan saya, karena pada kenyataannya, untuk selamanya saya tidak akan bisa melakukan itu lagi, saya minta maaf.
Naba Sabiru selalu menjadi Nabastala atau langit yang selalu ada, untuk semua, dan kau, Tala Amora. Seseorang yang menjadi cinta pertamanya setelah 17 tahun, seseorang yang selalu menunjukan kebahagiaan kepada semua orang, dan mengumpat ketika dirinya sedang sedih. Saya senang karena kamu mempercayaiku, untuk menjadi sadaranmu ketika semua orang bersedia untuk itu.
Maaf karena saya tidak menunjukan hidup saya padamu, saya hanya tidak mau kau menjadi terbebani karena itu. Tapi untuk terakhir kalinya, saya akan melakukan itu.
Tala Amora, saya mohon, jangan benci saya, karena saya akan selalu menyayangimu, akan selalu menjagamu, dan akan selalu memperhatikanmu, walau keadaannya memang sedikit berbeda, karena kamu tidak akan lagi bisa melihat saya, dan untuk terakhir kalinya, saya mencintaimu Tala Amora.
Lila pikir dia akan bahagia bersama Dewa, pria yang telah di utuskan sang Ayah menjadi suaminya sebelum sang Ayah meninggal dunia. Lila masih mengingat kata kata sang Ayah bahwa Dewa lah yang akan menjaganya, yang akan selalu ada untuk Lila kapan pun itu.
Namun, semuanya tidak seperti yang Ayahnya katakan. Dewa adalah pria yang tidak pernah peduli dengannya. Dewa yang selalu tak menganggap dirinya seorang istri. Seandainya Dewa mengerti dengan posisi Lila, seorang gadis yang begitu penurut namun rapuh. Seolah tak ada tujuan hidup hanya karena dirinya begitu hampa.
Lila pikir Dewa yang akan menjadi tujuan hidupnya. Seseorang yang mampu membuatnya tetap semangat menjalani kenyataan.
Namun, semuanya hanya semu. Lila yang merasa di sia siakan berhenti untuk berharap kepada Dewa , berhenti untuk menangisi Dewa dan menyerah untuk kisah selanjutnya.
.....................
" Rasa sakit ini tak akan pernah terobati. Tetapi, walaupun kamu melukai ku hingga aku lelah. Aku tidak pernah menyesal telah mencintai mu. Aku tidak pernah menyesal mengenal mu. Aku tidak menyesal karena telah kamu sakiti. Aku telah jatuh cinta, sampai kapan pun begitu. Hingga akhir sisa nafasku, aku akan selalu mencintaimu, Mas Dewa "