Story cover for Utopia by Tyas_Amar
Utopia
  • WpView
    LECTURAS 93
  • WpVote
    Votos 4
  • WpPart
    Partes 3
  • WpView
    LECTURAS 93
  • WpVote
    Votos 4
  • WpPart
    Partes 3
Continúa, Has publicado abr 17, 2020
Kenara Bulvhano Virodhio
 
  "Kenapa sih gak mau pacaran?,  eh iya lupa kamu kan gak laku hahaha" Aku bertanya dengan santai, seakan pertanyaan itu hanya candaan yang biasa kita lontarkan.
   
   "Kampret lu, lagian nih ya buat apa pacaran? Orang pacaran itu cuma peduli sama satu makhluk atas nama kasih sayang, eh giliran orang lain butuh kepedulian di cuekin. Bukannya banyak orang kena penyakit mental gara-gara krisis kepedulian? Bukannya kita bisa berbagi kepedulian buat siapa aja tanpa harus ada rasa cemburu dari lain pihak?" Yoceline, otaknya terlampau kritis bahkan untuk sekedar menjawab pertanyaan yang terlihat remeh. 
   
   'Aku tahu, dibalik jawabanmu yang kritis itu ada orang yang kau tunggu, tapi bukan aku dan tak akan pernah aku'

Yonathan 
  
  "Hei alien, benar-benar ya! Ngapain sih sibuk ngurusin urusan orang? Padahal kalo kamu diem aja kamu gak bakalan sering kena masalah" Aku gak habis pikir sama saraf-saraf di otak sahabat nyontekku ini.
 
  "Lambemu alien, emang kamu bisa hidup sementara kesalahan berlalu lalang di sekitarmu? Kalo bisa memperbaiki kenapa enggak?" Yoceline yang otaknya ketuker sama alien.
Todos los derechos reservados
Regístrate para añadir Utopia a tu biblioteca y recibir actualizaciones
O
#46utopia
Pautas de Contenido
Quizás también te guste
Eshal Renjana (Lengkap)✔ de Nana_Kiyowoo
56 partes Concluida
"Gala.." lirih gadis itu yang kini menatap nanar ke arah laki-laki disampingnya. "Kenapa hem?" Tanya nya kemudian, satu tangannya terangkat mengusak rambut hitam itu yang dibiarkan tergerai. Cantik, sangat cantik. "Papah.." Gadis tersebut berhenti sejenak, tak kuat melanjutkan kalimatnya tatkala suara isakan lolos begitu saja dari kedua belah bibirnya. Hatinya gundah. "Papah mau nikah Gal, gue takut-" "Gue takut papa gak sayang lagi sama gue. Gue gak bisa." Tangisnya pecah, takut, sebelumnya ia tidak pernah merasakan ketakutan seperti ini. Ia sungguh tidak bisa walaupun hanya untuk sekedar membayangkan bagian terburuknya. Laki-laki disampungnya hanya bungkam. Tak pandai mengucapkan kalimat-kalimat menenangkan direngkuhnya tubuh itu kedalam dekapannya. Dipeluknya erat, seolah-olah mengatakan bahwa gadis itu akan baik-baik saja. "Dengerin gue, kalaupun itu terjadi. Lo masih punya gue. Rumah kedua lo. Orang yang akan selalu ada disamping lo." -------------- "Gala....tolong jangan tinggalin gue." Mohon Renja. Kedua air matanya kian berderai ketika Gala justru malah bangkit berdiri dari duduknya. "Maaf Ren, gue gak bisa. Dia butuh gue." Ucapnya dan segera bergegas pergi. Meninggalkan Renja sendirian yang kian menganga lukanya dan sama membutuhkannya. Atau bahkan sangat membutuhkannya. Dan untuk yang kesekian kalinya ia ditinggalkan oleh orang-orang tersayangnya. Nyatanya manusia itu berubah. Ia menyesal karena pernah begitu percaya.
Perihal Sandwich(End) de dimsumentai
40 partes Concluida
Tidak ada yang mau memiliki adik sebanyak Mas Malik. Apalagi di zaman modern serba uang. Rasanya untuk membiayai hidup sendiri saja sudah sulit. Namun, bagi Mas Malik ke-enam adiknya adalah anugerah besar dalam hidupnya. Kami tujuh bersaudara dari umur dan sifat yang berbeda-beda. Kami memiliki julukan piatu geng, karena ibu sudah meninggal sejak Jafar baru dilahirkan. Gak tahu kenapa Abah sangat betah menduda. Abah bilang ibu itu seperti perampok handal yang bisa merampok semua hati Abah tidak tersisa. Kata Abah, dia terlalu takut untuk membuka hati lagi. Takut kalau ternyata gak bisa kasih ruang beserta isinya untuk si perampok baru. -Mas Malik- "Generasi Sandwich itu apa, sih, Bang?" "Kayak kita gini, saudaranya banyak." "Kata temen aku, jadi generasi Sandwich itu gak enak ya, Bang?" "Banyak anak, banyak kepala, banyak sifat, banyak kebutuhan." "Intinya jadi generasi Sandwich itu harus banyak uang, sih, biar tetep akur." "Jaf, sandwich kita ini beda dari yang lain, ini lebih spesial. Spesial bukan karena pake keju sama telor, tapi karena di dalamnya ada Abah, Mas Malik, Bang Eja, Janu, Jerry, Cahyo, sama kamu!" Bukannya memang tidak ada persahabatan yang lebih indah selain dengan saudara sendiri? Walaupun siang malam bisa berubah jadi Roro Jonggrang, tapi tetap saja mereka saling sayang seperti Upin Ipin. Masih pemula Bahasa baku, non baku Maaf kalau banyak typo 🚫Masih amburadul, tidak cocok untuk diikuti🚫 Salam Hangat Mentai👋
Quizás también te guste
Slide 1 of 10
Eshal Renjana (Lengkap)✔ cover
Rama Prananta (Sudah Terbit) cover
Suddenly I felt in love cover
Perihal Sandwich(End) cover
MFS ✓ cover
Because I'm Stupid (End) cover
Why Did Everyone Avoiding Me? cover
My Ice Prince cover
Our Juvenile : MANGUN KARSA cover
RUMAH KECIL ITU by : Plavana cover

Eshal Renjana (Lengkap)✔

56 partes Concluida

"Gala.." lirih gadis itu yang kini menatap nanar ke arah laki-laki disampingnya. "Kenapa hem?" Tanya nya kemudian, satu tangannya terangkat mengusak rambut hitam itu yang dibiarkan tergerai. Cantik, sangat cantik. "Papah.." Gadis tersebut berhenti sejenak, tak kuat melanjutkan kalimatnya tatkala suara isakan lolos begitu saja dari kedua belah bibirnya. Hatinya gundah. "Papah mau nikah Gal, gue takut-" "Gue takut papa gak sayang lagi sama gue. Gue gak bisa." Tangisnya pecah, takut, sebelumnya ia tidak pernah merasakan ketakutan seperti ini. Ia sungguh tidak bisa walaupun hanya untuk sekedar membayangkan bagian terburuknya. Laki-laki disampungnya hanya bungkam. Tak pandai mengucapkan kalimat-kalimat menenangkan direngkuhnya tubuh itu kedalam dekapannya. Dipeluknya erat, seolah-olah mengatakan bahwa gadis itu akan baik-baik saja. "Dengerin gue, kalaupun itu terjadi. Lo masih punya gue. Rumah kedua lo. Orang yang akan selalu ada disamping lo." -------------- "Gala....tolong jangan tinggalin gue." Mohon Renja. Kedua air matanya kian berderai ketika Gala justru malah bangkit berdiri dari duduknya. "Maaf Ren, gue gak bisa. Dia butuh gue." Ucapnya dan segera bergegas pergi. Meninggalkan Renja sendirian yang kian menganga lukanya dan sama membutuhkannya. Atau bahkan sangat membutuhkannya. Dan untuk yang kesekian kalinya ia ditinggalkan oleh orang-orang tersayangnya. Nyatanya manusia itu berubah. Ia menyesal karena pernah begitu percaya.