Utopia

Utopia

  • WpView
    Reads 94
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Apr 25, 2020
Kenara Bulvhano Virodhio "Kenapa sih gak mau pacaran?, eh iya lupa kamu kan gak laku hahaha" Aku bertanya dengan santai, seakan pertanyaan itu hanya candaan yang biasa kita lontarkan. "Kampret lu, lagian nih ya buat apa pacaran? Orang pacaran itu cuma peduli sama satu makhluk atas nama kasih sayang, eh giliran orang lain butuh kepedulian di cuekin. Bukannya banyak orang kena penyakit mental gara-gara krisis kepedulian? Bukannya kita bisa berbagi kepedulian buat siapa aja tanpa harus ada rasa cemburu dari lain pihak?" Yoceline, otaknya terlampau kritis bahkan untuk sekedar menjawab pertanyaan yang terlihat remeh. 'Aku tahu, dibalik jawabanmu yang kritis itu ada orang yang kau tunggu, tapi bukan aku dan tak akan pernah aku' Yonathan "Hei alien, benar-benar ya! Ngapain sih sibuk ngurusin urusan orang? Padahal kalo kamu diem aja kamu gak bakalan sering kena masalah" Aku gak habis pikir sama saraf-saraf di otak sahabat nyontekku ini. "Lambemu alien, emang kamu bisa hidup sementara kesalahan berlalu lalang di sekitarmu? Kalo bisa memperbaiki kenapa enggak?" Yoceline yang otaknya ketuker sama alien.
All Rights Reserved
#74
utopia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Eshal Renjana (Lengkap)✔
  • Why Did Everyone Avoiding Me?
  • Our Juvenile : MANGUN KARSA
  • A New Beginning
  • SATU RAGA SERIBU LUKA |
  • Suddenly I felt in love
  • My Ice Prince
  • Him | Park Jisung (END)
  • RUMAH KECIL ITU by : Plavana
  • My Bromance [18+] End

"Gala.." lirih gadis itu yang kini menatap nanar ke arah laki-laki disampingnya. "Kenapa hem?" Tanya nya kemudian, satu tangannya terangkat mengusak rambut hitam itu yang dibiarkan tergerai. Cantik, sangat cantik. "Papah.." Gadis tersebut berhenti sejenak, tak kuat melanjutkan kalimatnya tatkala suara isakan lolos begitu saja dari kedua belah bibirnya. Hatinya gundah. "Papah mau nikah Gal, gue takut-" "Gue takut papa gak sayang lagi sama gue. Gue gak bisa." Tangisnya pecah, takut, sebelumnya ia tidak pernah merasakan ketakutan seperti ini. Ia sungguh tidak bisa walaupun hanya untuk sekedar membayangkan bagian terburuknya. Laki-laki disampungnya hanya bungkam. Tak pandai mengucapkan kalimat-kalimat menenangkan direngkuhnya tubuh itu kedalam dekapannya. Dipeluknya erat, seolah-olah mengatakan bahwa gadis itu akan baik-baik saja. "Dengerin gue, kalaupun itu terjadi. Lo masih punya gue. Rumah kedua lo. Orang yang akan selalu ada disamping lo." -------------- "Gala....tolong jangan tinggalin gue." Mohon Renja. Kedua air matanya kian berderai ketika Gala justru malah bangkit berdiri dari duduknya. "Maaf Ren, gue gak bisa. Dia butuh gue." Ucapnya dan segera bergegas pergi. Meninggalkan Renja sendirian yang kian menganga lukanya dan sama membutuhkannya. Atau bahkan sangat membutuhkannya. Dan untuk yang kesekian kalinya ia ditinggalkan oleh orang-orang tersayangnya. Nyatanya manusia itu berubah. Ia menyesal karena pernah begitu percaya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines