ANESKA
  • WpView
    MGA BUMASA 42
  • WpVote
    Mga Boto 4
  • WpPart
    Mga Parte 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeHuling na-publish Sat, Apr 18, 2020
"Ini adalah kisahku sebagai pegawai perpustakaan SD yang mencoba menjadi pendidik yang baik. Tentu saja kisahku ini tidak sespektakuler kisah-kisah para pendidik di karya-karya penulis best seller. Namun kisahku ini adalah keresahan, masalah, dan pengalaman yang tidak bisa kulupakan." Aneska Rahayu Putri. Begitu selesai menulis Blurb, tiba-tiba ada seseorang yang mendekat dan sudah berada di belakangku. "Gaya Anda sudah kaya penulis milineal saja. Saya sih ragu ada yang baca. Tulisan apa itu? Segala curhatan ditulis. Ya ampun dilihat sekilas saja sudah ragu buat baca," ujar Si Sosiopat kelas teri. Perusak suasana nomer wahid!
All Rights Reserved
#138
guru
WpChevronRight
Sumali sa pinakamalaking komunidad ng pagkukuwentoMakakuha ng personalized na mga rekomendasyon ng kuwento, i-save ang iyong mga paborito sa iyong library, at magkomento at bumoto para lumago ang iyong komunidad.
Illustration

Magugustuhan mo rin ang

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Gadis Tteokbokki & Cowok Mochaccino (DITERBITKAN)
  • Mari Saling Bicara
  • Nav's Stories
  • Sweet Combat
  • Evanescent [SAKUATSU] [End]
  • GRIZELLE [Completed]
  • ZIVANA(ON GOING)√
  • GISAN

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

Karagdagang detalye
WpActionLinkMga Alituntunin ng Nilalaman