Vows of Eternity

Vows of Eternity

  • WpView
    Reads 2,555
  • WpVote
    Votes 179
  • WpPart
    Parts 28
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Aug 31, 2026
WpInfo
Fiction
Fantasy
Hujan turun perlahan di luar jendela kaca yang berembun. Aroma tanah basah dan kopi hitam memenuhi ruang tamu yang terlalu besar untuk dua orang asing yang tinggal di dalamnya. Najwa duduk di pojok sofa dengan selimut tipis di pangkuan, matanya menelusuri halaman novel yang belum ia pahami sepenuhnya. Kata-kata tak benar-benar menempel malam ini. Seseorang di seberang ruangan sedang menelepon dalam bahasa yang tak ia pahami, tapi suaranya tenang... hampir seperti hujan itu sendiri. Tengku Faiq berdiri membelakangi jendela, punggung tegap, rambutnya masih basah oleh air gerimis. Ia menutup telepon pelan dan menatap Najwa dengan pandangan yang tak menuntut, hanya mengamati. Mereka sudah tinggal bersama selama delapan hari. Tujuh malam sebelumnya berlalu dalam diam yang sopan, percakapan yang terlalu hati-hati, dan jeda panjang di antara pertanyaan sederhana. "Esok saya harus ke Pekan. Awak ikut, atau tetap di sini?" tanyanya, nada suara datar namun tak dingin. Najwa menutup bukunya perlahan. "Apa harus ikut?" Ia mengangkat alis. "Tak perlu. Tapi kalau awak mahu... ada tempat yang indah dekat pelabuhan. Lautnya seperti kaca." Tak ada jawaban. Hanya sepasang mata yang saling menatap, seperti dua orang asing yang tersesat dalam rumah yang sama, mencoba menemukan arah, tanpa kompas yang pasti - kecuali waktu.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Segelas Berdua
  • When Sandwich Meets You
  • Takhta Maison De Fraise
  • Yustisia untuk Gendis
  • Hello, Abang!
  • TRAPPED IN YOU
  • Second Impressions
  • Men(Dian)g (END)
  • Second Vow
  • Caught in Love (Again)

Perjalanan hidup memang tak lepas dari peran orang lain. Begitulah yang Ayara Janitra rasakan, sebab baginya kehidupannya tak lepas dari seorang Yasawirya Najandra--laki-laki yang ia cintai, yang menjadi segalanya untuknya. Ibarat hubungan mereka adalah sebuah gelas, mereka sepakat untuk saling mengisinya dengan penuh cinta lalu menikmatinya bersama-sama. Hingga pada satu masa, mereka di hadapkan pada persimpangan yang membuat mereka harus memutuskan untuk tetap mengisi gelasnya bersama atau membaginya pada orang lain?

More details
WpActionLinkContent Guidelines