Vows of Eternity

Vows of Eternity

  • WpView
    Reads 2,108
  • WpVote
    Votes 109
  • WpPart
    Parts 26
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Mar 20, 2026
Hujan turun perlahan di luar jendela kaca yang berembun. Aroma tanah basah dan kopi hitam memenuhi ruang tamu yang terlalu besar untuk dua orang asing yang tinggal di dalamnya. Najwa duduk di pojok sofa dengan selimut tipis di pangkuan, matanya menelusuri halaman novel yang belum ia pahami sepenuhnya. Kata-kata tak benar-benar menempel malam ini. Seseorang di seberang ruangan sedang menelepon dalam bahasa yang tak ia pahami, tapi suaranya tenang... hampir seperti hujan itu sendiri. Tengku Faiq berdiri membelakangi jendela, punggung tegap, rambutnya masih basah oleh air gerimis. Ia menutup telepon pelan dan menatap Najwa dengan pandangan yang tak menuntut, hanya mengamati. Mereka sudah tinggal bersama selama delapan hari. Tujuh malam sebelumnya berlalu dalam diam yang sopan, percakapan yang terlalu hati-hati, dan jeda panjang di antara pertanyaan sederhana. "Esok saya harus ke Pekan. Awak ikut, atau tetap di sini?" tanyanya, nada suara datar namun tak dingin. Najwa menutup bukunya perlahan. "Apa harus ikut?" Ia mengangkat alis. "Tak perlu. Tapi kalau awak mahu... ada tempat yang indah dekat pelabuhan. Lautnya seperti kaca." Tak ada jawaban. Hanya sepasang mata yang saling menatap, seperti dua orang asing yang tersesat dalam rumah yang sama, mencoba menemukan arah, tanpa kompas yang pasti - kecuali waktu.
All Rights Reserved
#47
tengku
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Goodbye, Hello?
  • Tanda Seru
  • Menuju Seperempat Abad [End]✓
  • Work Life, Love Balance (END)
  • THE REBELLOUSE! [END]
  • Half Of My Heart ​[UNDER REVISION]
  • MANAGER KEUANGAN [END]
  • Favorite Lecturer
  • Spicy
  • Semestinya Cinta ( Selesai )

Ibram Agasatya punya julukan yang menyebalkan, 'tukang gamon' alias gagal move on. Sejak SMA ia tak lagi menjalin hubungan dengan perempuan manapun setelah Brigita Kirani. Perempuan yang pernah membuatnya jatuh, bangkit, lalu hancur dengan cara paling sunyi. Pergi tanpa penjelasan. Bagi Gita, Ibram adalah mimpi indah di tengah hidup yang terlalu keras untuk ia jalani. Tapi mimpi tak bisa selamanya dipertahankan. Saat kenyataan menuntut, Gita terpaksa bangun. Meninggalkan Ibram. Meninggalkan cinta yang tak sempat ia jelaskan. Sepuluh tahun berlalu, dan entah bagaimana waktu selalu punya cara untuk membuat mereka kembali bertemu. Tentang Ibram yang masih menyimpan rasa, dan Gita yang membawa rahasia masa lalu.

More details
WpActionLinkContent Guidelines