Endless Feel

Endless Feel

  • WpView
    Reads 7
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Oct 27, 2021
WpInfo
Fanfic
NCT
Saling bertatap Tanpa saling berucap Saling melempar tawa Namun enggan untuk saling menyapa Yang satu berharap, Yang satu nya tak menganggap Yang satu menanti, Yang satunya malah pergi Akankah rasa ini berakhir? Ataukah bertahan dan menjadi sebuah takdir? . . . . . . Prolog "Rasa tak berujung" Kata-kata itu yang kini tengah menyelimuti hati Adara, meskipun rasa pertamanya itu tak terbalaskan namun Adara masih tetap menyimpan rasanya sampai kini. Ya, rasa yang muncul sejak 5 tahun lalu itu sepertinya enggan pergi dari hati Adara dan enggan memberikan ujung. Meskipun kini seseorang telah hadir dalam kehidupan barunya tetap saja rasa itu sepertinya enggan untuk menghilang. Akankah perasaan lama itu berujung? Atau malah menetap dalam relung menjadi rasa yang tak berujung?
All Rights Reserved
#579
nomin
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Erlangga
  • Antara Jarak Dan Waktu
  • ALONE
  • Badai, Kapan Berlalu?
  • Antara Aksara dan Kata
  • DREAM ✓
  • ALEYA~~
  • Badai Tak Berujung [ON GOING]
  • Senja Dan Jingga
Erlangga

Erlang selalu berpikir bahwa cinta adalah sesuatu yang bisa ia genggam erat. Bahwa ketika dua orang saling mencintai, mereka akan tetap bertahan, apa pun yang terjadi. Tapi nyatanya, itu hanya keyakinan naif yang perlahan hancur di hadapannya. Pacarnya pergi karena dia sudah menemukan yang baru. Semua janji, semua rencana masa depan, semuanya runtuh dalam sekejap. Erlang hanya bisa menatap kepergiannya, bertanya dalam hati, "Apa aku kurang baik?" Belum juga ia berdamai dengan kehilangan itu, takdir menamparnya lebih keras. Sahabatnya, satu-satunya orang yang mengerti dia tanpa banyak bicara, pergi-bukan karena memilih, tapi karena kehidupan memutuskan demikian. Kali ini, kepergian itu benar-benar untuk selamanya. Tidak ada kesempatan untuk meminta maaf, tidak ada lagi tawa yang bisa dibagi. Ditinggalkan oleh orang yang ia cintai, kehilangan orang yang selalu ada untuknya-Erlang berpikir, mungkinkah ia memang ditakdirkan untuk sendiri? Namun, di tengah kehancurannya, ada satu orang yang tetap di sisinya. Seseorang yang tak banyak bicara, tapi selalu tahu kapan harus mendengar. Sahabat yang tidak pernah menjanjikan apa pun, tapi selalu ada tanpa diminta. Dan dari sana, tanpa Erlang sadari, luka yang ia pikir tak akan sembuh perlahan mulai menemukan cahaya. Cinta yang ia kira sudah mati, ternyata masih punya kesempatan untuk hidup kembali. Apakah Erlang siap membuka hatinya lagi? Atau masa lalu akan terus menghantuinya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines