Greet Tomorrow

Greet Tomorrow

  • WpView
    Lecturas 156
  • WpVote
    Votos 52
  • WpPart
    Partes 5
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación lun, abr 20, 2020
WpInfo
Ficción
Romance
Cerita ini di buat Teruntuk Orang-Orang yang merasakan harinya buruk dan memepersiapkan dirinya untuk menunggu Hari Esok yang jauh lebih baik. Dengan beberapa Motivasi Makna yang ada di dalamnya yang di ambil Berdasarkan pengalaman dan sedikit cerita kehidupan saya. Yang akan di ceritakan dalam kisah ini
Todos los derechos reservados
#107
tomorrow
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Misteri- US
  • "Biarlah: Sebuah Kisah Tentang Sunyi dan Luka"
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • Your My Brother
  • Kathréftis {καθρέφτης}|| End✓
  • Meneroka Jiwa 2
  • Titik Koma; Sketsa (TERBIT - STORA)
  • I'M HAPPY WITH YOU [TAMAT]
  • Insecurity [ SEGERA TERBIT ]

Suatu hari kita dipertemukan oleh hujan, di bawah hujan, kita saling pandang. Kau ibarat payung, membuatku merasa teduh setiap kali dingin mengigilkan. Kita adalah sepasang rindu tanpa ikatan. Seringkali aku membatin, haruskah ku tanyakan perihal rasamu, mengapa kau selalu ada memenuhi segala kebutuhanku. Tuhan teramat baik. Tanpa waktu yang lama, kita akhirnya dipertemukam lagi, kali ini pertemuan yang sangat romantis. Kau memintaku menjadi pendamping hidupmu. Aku merasa beruntung, masih bernafas hingga detik ini. Tidak secuilpun, bahwa hidup bersamamu akan menjadi sebuah kenyataan. Lagi - lagi Tuhan teramat baik, dia berikan aku kesempatan membina keluarga sederhana bersamamu, bukan lagi hujan yang menciptakan romantisnya, namun pelukanmu adalah sebuah keromantisan yang setiap saat ku rasakan. Baru sejenak, karena Tuhan begitu sayang kepadaku. Sepulang dari Honeymoon, Tuhan menguji dengan perpisahan kita setelah honeymoon yang terasa begitu manis. Ingin ku sesali hari itu, andaikan saja begitu bathinku selalu bersuara. Namun, aku tidak ingin menjadi manusia yang tidak tahu diri. Sekarang aku hanya bisa mengikhlaskan, sembari menunggu benihmu yang tumbuh di perutku bisa menatap dunia. Aku tak sanggup lagi membaca deary yang ku pegang saat ini, yang ternyata adalah deary ibuku sendiri. Perlahan semuanya berlalu. Aku kehilangan arah dan tujuan. Semua berubah, kehidupanku. Hingga pada akhirnya, aku tersadarkan. Bahwa tidak ada surat ibu ke koran, tiada deary, tidak ada ibu angkat yang jahat, juga tidak ada kisah cintaku bersama Alex. Orang yang ku benci selama ini adalah ibu, perempuan yang melahirkanku. Perempuan yang masih bisa menatapku dengan penuh cinta, disaat suaminya, Ayahku. Harus meregang nyawanya karenaku. Semua ulahku, andai saja aku mendengarkan permintaan ibu untuk tidak menjalin hubungan dengan Arkan, ini tidak terjadi. Pasien skizofrenia ! Aku melangkah gontai, mengikuti langkah kaki perawat yang memanggilku.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido