IN SILENT LIGHT

IN SILENT LIGHT

  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Apr 20, 2020
Dianissa percaya, meski semesta tidak selalu menjanjikan akan ada pelangi srlepas hujan menguyur bumi, tapi dirinya yakin bahwa semesta akan selalu tepat janji mendatangkan pagi setelah malam menyelimuti. Dan begitu pula dengan apa yang terjadi dalam hidupnya. Dirinya percaya jika segala sesuatu yang sudah tertulis pasti tidak ada yang akan terbiar sia-sia. Mulutku mungkin memang tidak bisa berkata-kata, tapi percayalah, jari-jemariku akan mewakili untuk menjelaskan segalanya. Telingaku juga mungkin tidak bisa mendengarkan cerita, tapi dengan kedua mataku aku akkan selalu berusaha mencari cahaya dari setiap binar yang ada. Bukankah semua memang seperti itu? Tidak semuanya pesan harus terkatakan untuk bisa tersampaikan, dan tidak semuanya harus terdengar untuk bisa dirasakan?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Silence That Shaped Me
  • Sin-yuka Imperio
  • Tepian Semu || Lilynn✅
  • Surat Untuk Takdir [ ON GOING ]
  • BERKELANA DI LABIRIN [End]
  • Love in The Accident
  • Antara Dendam dan Cinta
  • Dalam Diam | Hiatus
  • NOESIS [END]

"Aku tetap ada. Meski kalian pura-pura aku tidak pernah lahir." Goresan tinta hitam itu tampak tegas, meski tangan yang menuliskannya sempat gemetar. Tulisan itu menggantung di atas pantulan wajah Freya-seakan mengukir ulang dirinya. Bukan lagi sebagai anak yang tak dianggap, tapi sebagai sosok yang memilih berdiri. Di antara luka, pengkhianatan, dan keheningan yang membatu, ia tetap ada. Ia hidup. Bukan demi pengakuan. Bukan demi cinta yang tak kunjung datang. Tapi demi dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Freya tak menanti suara dari luar kamar. Tak lagi berharap ada ketukan, atau sapaan lembut di pagi hari. Ia tahu, pagi itu akan tetap sepi. Seperti biasanya. Namun kali ini, ia tidak takut. Karena saat dunia berhenti menyambutnya... Ia akhirnya menyambut dirinya sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines