Rubel : Rumah Kurbel

Rubel : Rumah Kurbel

  • WpView
    Reads 262
  • WpVote
    Votes 26
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 10, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
Nama gua Dira, pelajar putih abu-abu yang ngekost di deket sekolah. Efek rumah jauh dari sekolah gan, yang mengharuskan gua ngekost. Dan kostan gua punya nama, yaitu "Rubel" . "Kenapa dinamain rubel?" tanya gua. "Karena isinya orang-orang kurbel." jawab Atha. "Kurbel? Kurang belajar?" tanya gua lagi. "Terserah lu mau kepanjangannya gimana. Intinya, orang kurbel ga ada yang pinter, goblok nya totalitas." jawab Ratu. "Maaf saya ga goblok ya." protes Arda. "Ya ga goblok, cuman goblok kesonoan dikit, telmi." timpal Aldiva. "Ini alasan kenapa gua ga suka sama bocah paling kecil, savage moment nya ada mulu anjir. Gua kapan?" ucap Kia. "Udah tua bangkotan mending tobat dah. Ga usah dugem-dugeman lagi, goyangan lu juga kalah sama kekeyi." timpal Iffa. "Wahai ukhti sangat tidak baik menasihati dengan kata kasar. Tapi aku padamu, peh!" ucap Lia. "Geleng-geleng kepala aja dah gua liat kelakuan lu pada. Udah capek, ga kuat lagi." ucap Ara. "EH?! KAMU UDAH GA KUAT?! WOEE TELPON AMBULAN, INI MAU LAHIRAN, UDAH GA KUAT KATANYA COK." ucap Bian sembari menepuk-nepuk perut Ara. "AMBUUU, KUNAON AING TINGGAL DI DIEU! JELEMA JELAMA NA SOK GARELO KIEU, AMBUU HELP MEEEEE!" ucap Dila sembari berteriak kemudian masuk ke dalam rumah. Selamat datang, dan selamat membaca! © 23/4/20
All Rights Reserved
#344
lia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • A L G A R I S  (Selesai)
  • GATARARA
  • I'm a Girl, Bos!
  • My love ' My Enemy [ END ]
  • ALYA (END)
  • We Are Abu-Abu!!!
  • Bersaing atau Bersama? Pilih Satu!
  • Arsyilazka
  • Kembar Berbeda [TERBIT]

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines