Sehati Sejiwa

Sehati Sejiwa

  • WpView
    Reads 18,739
  • WpVote
    Votes 1,349
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jan 29, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
Coming soon.... Perpisahan yang sangat menyakitkan.. Terpisah dengan orang orang yang kita cinta dan sayangi itu benar benar sangat menyakitkan sekali... Karna keegoisan dan ego dari masing masing orang tuaku,mereka menyakiti aku dan adik adik ku.. Perpisahan itu membuat jarak yang sangat jauh sekali.. Jarak Bumi dan Langit seperti itu jarak yang membuat kita berpisah.. Semakin aku mengkikis jarak itu semakin lebih jauh lagi jarak yang memisahkan kita.. Setiap malam aku selalu memandangi bintang bintang yang bertebaran di lagit gelap ituu..berharap wajah wajah yang aku rindukan akan ada disana,tapi sayang aku sudah mencari cari wajah wajah itu di ribuan bintang di langit tapi tidak ku temukan...entahlah aku bahkan sekarang sudah tidak tahu lagi bagaimana wajah wajah itu sekarang...!!!
All Rights Reserved
#4
duoselatan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Our Home Lost in This House
  • Membumi(Tamat)
  • "Menuju Terang" ( Slow Update Ya)
  • MUTIARA [END]
  • Adikku Berubah (END)
  • You are in my past and my future [END]
  • Back To You
  • Brave Alone
  • 𝐅𝐑𝐈𝐄𝐍𝐃𝐙𝐎𝐍𝐄 𝟐 [𝐄𝐍𝐃]

Malam membawa bulan melayang diambang langit Menebar bintang yang berbaris rapi Sakit yg menggerogoti aku Semakin tak berperasaan Menusuk ulu hati, menyisakan luka yang tak kunjung mengering Menambah lara hatiku yg terkhianati Aku tak diberi kesempatan Oleh rembulan untuk berkisah lebih lama dari biasanya Arumi Syafiya. _________________________________________ Secarik kertas terakhir seorang ibu dalam sakaratul mautnya. Lengkap dengan butir-butir air mata yg membekas di atas kertasnya. Dan tetesan darah yang membentuk identitas di permukaannya. Yang membuat siapa pun yang membacanya akan paham, betapa sakit dan. menderitanya ia di penghujung nyawanya. Wanita hebat yg kerap kami panggil Bunda itu, telah tiada tiga tahun yang lalu. Mewarisi kami hati yang terbalut rindu. Lengkap dengan kenangan kami, hari-hari kami, yang kami habiskan dengan canda dan tawa. Tanpa tau apa yang telah dialaminya, kami tak kehilangan sedikit pun kasih sayang. Semuanya utuh, seolah baik-baik saja.

More details
WpActionLinkContent Guidelines