Senja Penuntun Pulang

Senja Penuntun Pulang

  • WpView
    Reads 1,464
  • WpVote
    Votes 766
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 29, 2020
Sebuah perjalanan yang diakibatkan oleh Aku yang sangat keranjingan oleh pesona mu. Mata elok khas Bali. Delik nya khas Jembrana. Lekuk nya khas Legian. Setelah mengenalmu, Aku menjadi paham bahwa komitmen bukan lagi sekedar ucap. Namun harus tertanam dalam hati. Tapi apakah "hanya" Kamu yang ada di dalam hati ini? Ternyata sempat ada "dia". Senyumnya yang membuat aku sadar bahwa aku sebaiknya mulai pensiun mengagumkanmu, perhatiannya membuat aku sadar bahwa aku sebaiknya mencari "rumah baru" untuk aku pulang, rendah hati nya membuat aku sadar bahwa "Jogja.. aku jatuh hati pada ketulusannya" Entah ada mantera apa sehingga kaki ku terus menerus melangkah kesana, walau aku tahu belum ada "rumah" di hatinya. Namun tangannya menggenggam ku untuk membangun sebuah "pondasi" di hati. Bagaimana pendapat senja? Bagaimana pendapat semesta?
All Rights Reserved
#286
wattpadindo
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kopi & Deadline (On Going)
  • Dua Lensa
  • STAR ALIGN
  • AIRen
  • i hate you bossy!
  • Saat Janji Menjadi Luka (OnGoing)
  • Bad Papa
  • Salah Waktu[END]
  • BALADA KEHIDUPAN
  • Cerita di Balik Senja

Bukan karena lambat bekerja, Ara lembur lagi bagai kuda. Ara duduk sendiri di cubicle, mata lelah, kopi sachet ketiga di tangan, layar laptop menyala dengan file yang hampir rampung. Ingatkan Ara sekali lagi bahwa kerjaannya 'hampir rampung'. Dia menatap layar, lalu menarik napas panjang, "Aku nggak tahu lagi ini kerjaan atau penyiksaan... Tapi besok pagi harus submit, kalau nggak... ya biasa, dapat teror halus dari atasan." Dulu waktu kecil, Ara selalu mengganggap orang yang pulang kantor sampai pukul 12 malam atau pagi buta adalah orang-orang keren. Iya keren, keren keramnya sebadan-badan. Ara menarik napas panjang untuk kesekian kalinya, "Aku gila deh kayaknya, masa dulu kerjaan kayak ginian aku bilang keren." Di sela kelelahan itu, Ara mengenang tempat ngopi yang pernah dia datangi dua minggu lalu-tempat yang jarang dia datangi sebelumnya, tapi entah kenapa, wajah sang barista masih lekat di kepalanya. Dia pernah bilang ke dirinya sendiri , "Aku nggak punya waktu buat cinta." Tapi sejak ketemu cowok itu... apa kalimat yang digaung-gaungkan Ara mulai retak? GA MENERIMA NAMANYA PENJIPLAKAN YA EGE, NYARI IDE ITU GA MUDAH‼️

More details
WpActionLinkContent Guidelines