Berusaha Ikhlas_

Berusaha Ikhlas_

  • WpView
    Reads 29
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Apr 24, 2020
Ketika Mencintai seseorang dalam diam Yang terhalang Tembok Ruang Dan waktu. Perkenal kan Nama aku adalah Khaila Anisa Rahma seorang perempuan Yang jatuh hati kepada seorang laki-laki yang bernama Muhammad Rafiq Ardiansyah. Tapi dilain sisi aku merasa.. disini Hanya aku Yang Jatuh cinta, sedang kan dia ? Ntah laa. Kenapa Rasa ini begitu sakit ?? :( Mungkin inilah Resiko nya ketika kita mencintai seseorang dalam diam.setiap sesuatu yang kita ambil pasti mempunyai Resiko nya masing-masing. Eitss.. Tapii Allah Selalu mempunyai Sekenario yg terbaik Dari apa yang Manusia Rencanakan.. So! jangan menyerah dan masih Banyak lagi Rencana² Allah Yang Tak Terdugaa di dalam Cerita ini 👇. << Mau Tau kelanjutann Kisah cinta nya khaila ???? Yukk Baca sampai Akhirr . Ouh yaa Author mau ngasih tau nihh, kalau ini sedikit diambil dari kisah yang Real. Jadi Maaf 🙏 jika masih belum rapih dalam penulisan atau kata² . Masih dalam tahapan Belajar . Terimakasih
All Rights Reserved
#13
screetadmirer
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ternyata Takdirku adalah Kamu
  • Astagfirullah, Sabrina! (TERBIT)
  • HALAQAH CINTA (SUDAH TERBIT) ✓
  • All About You (end)
  • Takdir Terbaik
  • Still The Same Person
  • Love in Silent
  • Love Till Jannah [END]
  • Perihal Mengikhlaskanmu [TAMAT]
  • 1. Diam Dalam Cinta (end)

JANGAN LUPA FOLLOW YA... terimakasih sudah mampir Ada cinta yang tidak perlu diumbar, cukup diam-diam mendoakan dari kejauhan. Karena kadang, mencintai yang paling dalam adalah saat memilih untuk menjauh. Aku, Cilla, gadis biasa yang sebentar lagi akan memulai hidup baru di UIN Rafah. Di usia delapan belas ini, hidupku seperti perjalanan kereta yang tak pernah berhenti di stasiun yang sama dua kali. Termasuk stasiun bernama Arsan. Dia pernah singgah. Pernah menjadi alasan senyumku setiap pagi. Pernah menjadi orang yang paling aku percaya. Tapi kami memilih pergi. Bukan karena tidak saling mencintai, tapi karena tahu: terlalu dekat bisa membuat segalanya salah arah. Kami memilih menjaga, meski harus saling menjauh. Dan kini, setelah waktu membawa kami ke dunia yang berbeda... Aku masih menyebut namanya dalam sujud terakhirku. Sementara aku tak tahu, apakah dia juga menyebut namaku saat langitnya mendung dan hatinya sunyi. Mungkin kami sedang menguji takdir. Atau... mungkin takdir sedang menguji kami. Karena jika benar cinta ini suci, maka tak perlu digenggam erat untuk dimiliki. Cukup dipercayakan kepada Allah. Dan jika suatu hari aku kembali bertemu dengannya, aku ingin bertanya satu hal: "Masihkah kamu menganggapku takdirmu, seperti dulu?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines