Cerita Cinta

Cerita Cinta

  • WpView
    Reads 89
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 25, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Hellow sahabat! Ini cerita pertamaku, ya mon maap kalo ga sebagus cerita" nya orng" :") -Mencintaimu tak perlu alasan, berawal dari dekat dan nyaman yang bisa membuatku menaruh hati padamu:') . . . Aku mengenalnya lebih dari satu hari, aku dekat dengannya lebih dari satu minggu, dan aku mencintainya lebih dari satu tahun. Ini ceritaku, cerita hidupku, cerita cintaku. Entah apa yang Tuhan rencanakan, sehingga aku bisa mencintainya. Aku yang slalu berjuang sendiri untuk hubungan ini, aku yang harus mengerti hubungan ini, aku pula yang harus sadar diri dengan hubungan ini. Kita lebih dari teman tapi tak kurang dari hubungan spesial:')
All Rights Reserved
#322
stella
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Bawa Aku Pulang (End)
  • Be Mine (TAMAT)
  • MENYAPA  MELALUI DOA
  • MY FIRST LOVE STORY
  • SO PRECIOUS (PART COMPLETE)
  • Davin
  • Fall for You
  • my story
  • Regrets of Love
  • Friend's Diary I

By a True Story Tentang dua anak muda yang menghabiskan waktunya bersama di masa putih abu-abu. -- Ponselku bergetar. Layarnya menyala terang. Nama Widya muncul di sana. "Za. Belum tidur?" Tanyanya dalam pesan itu. Aku melirik jam yang terdapat di sudut kanan atas layar ponsel, mendapati kini sudah jam dua pagi. "Belum, kenapa, Wid?" Aku bertanya balik. "Temenin gue teleponan dong! Gue enggak bisa tidur, nih." Sebenarnya, walau berada di kamar, aku sedang sibuk bekerja dengan komputerku. Namun, sejak mengenalnya delapan tahun lalu, aku selalu saja tidak bisa menolak permintaannya. "Oke." Balasku singkat sebelum akhirnya ponselku berbunyi, ada telepon masuk darinya. "Masih kerja?" Terdengar suaranya di sebrang sana. "Udah selesai, kok." Aku terpaksa berbohong. Padahal, aku mengesampingkan pekerjaanku untuknya. "Kenapa? Kok susah tidur? Emangnya mikirin apaan?" "Enggak tau, nih. Akhir-akhir ini, rasanya susah banget tidur cepet." "Lu kebanyakan tidur siang kali? "Bisa jadi, sih. Soalnya gue tidur bangunnya agak siang. Hahaha. Omong-omong, gue ganggu, enggak?" "Ganggu? Enggak, kok." "Emang lu lagi di mana, Za?" Tanyanya. "Di kulkas." "Hahaha." Ia tertawa. Aku selalu suka mendengar tawanya. "Serius ih! Lu lagi di mana?" "Di rumah, Wid. Kenapa, sih?" "Gapapa, nanya aja." Balasnya. "Oh iya, selain kerja, lu sibuk apa lagi deh akhir-akhir ini, Za?" Tanyanya padaku. Entah apa jawabanku atas pertanyaan itu. Yang jelas, aku bicara dengannya cukup lama. Mulai dari membicarakan soal kesibukan selain pekerjaan, sampai akhirnya membicarakan masa-masa SMA, dulu. Iya, Widya adalah temanku saat masih SMA. Aku mengenalnya sejak delapan tahun lalu. Aku ingat bagaimana aku mulai mengenalnya waktu itu.

More details
WpActionLinkContent Guidelines