ADHELIA & EURICO [SELESAI]

ADHELIA & EURICO [SELESAI]

  • WpView
    Reads 1,719
  • WpVote
    Votes 577
  • WpPart
    Parts 22
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, May 21, 2020
Haluan yang memburu selalu disakiti, bukan sekedar sengaja maupun disengaja Pada awal nya perempuan lemah dari fisik, tapi bukan dari hati. Hati seorang perempuan itu lembut seperti kain sutera, meskipun disakiti dia cukup tegar untuk memaafkan. Mencintai bukan hal yang buruk, tapi jika perlakuan kita membuat orang tersakiti maka mencintai itu adalah hal yang paling buruk. ---> Di cerita ini, mungkin semua orang memikirkan bahwa lelaki lah yang paling kuat, tetapi percayalah bahwa kekuatan perempuan lebih kuat dibandingkan dengan kekuatan seorang lelaki pada umumnya. <--- Derajat perempuan itu dikejar bukan mengejar, jadi buat laki-laki harusnya menghargai perjuangan perempuan karena sesungguhnya perempuan itu adalah sebuah bangunan yang kokoh untuk selalu diterjang oleh badai dan hujan.
All Rights Reserved
#594
pergi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • PERAYAAN PATAH HATI
  • MY LAST DECEMBER
  • Antara dosa dan Cinta Pertama
  • Masih Ada Kamu di Setiap Luka [TAMAT]
  • I LOVE YOU even though I HATE YOU
  • PAIN (TERBIT) ✔
  • Savero Archandra || Haechan || END
  • Ik Hou Weer Van Je
  • Langit Tak Bertemu Bumi

"Tidak semua luka harus sembuh, sebagian justru layak dikenang..." Dalam kumpulan cerpen ini, patah hati bukan sekadar akhir dari cinta, tapi sebuah perayaan-tempat kenangan, luka, pengkhianatan, dan keheningan duduk bersama dalam satu meja, meneguk air mata sebagai anggur malam. Perayaan Patah Hati menghadirkan kisah-kisah manusia yang berjalan limbung di lorong sunyi kehilangan: Seorang pria yang dihantui masa lalu mantan istrinya, hingga iblis dalam dirinya menampakkan wajah... Perempuan yang mencari makna di balik mimpi-mimpi gelap setelah kekasihnya hilang tanpa pesan... Sebuah surat yang tak pernah sampai, ditulis di antara jeda hujan dan bunyi ambulans... Dan cinta-cinta lainnya, yang menyublim dalam kata, menyakitkan namun indah dikenang. Dengan gaya bahasa yang manis dan penuh diksi metaforis, buku ini mengajak pembaca merayakan rasa sakit, menyelami kedalaman luka, dan menatap cahaya kecil di ujung sepi. Karena tidak semua patah hati harus dilupakan-sebagian dituliskan, dirayakan, dan dijadikan rumah bagi yang pernah tersesat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines