Merelakan

Merelakan

  • WpView
    Reads 278
  • WpVote
    Votes 39
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jun 27, 2020
Merelakan adalah satu hal terberat dalam hidup. Entah itu hal yang kecil atau besar sedikitpun. Tetapi, merelakan orang yang sangat kita sayang adalah satu hal yang cukup sulit untuk dilakukan. Merelakan mu misalnya. Jujur, aku bingung. Aku bingung harus merelakanmu dengan yang lain atau tetap pada pendirianku untuk terus mencintaimu. Entah pada siapa dan rumah yang mana yang akan aku tinggali nantinya. Karena hatiku masih tersimpan untuknya. Menjalani hubungan tanpa sebuah permasalahan itu sepertinya hanyalah mitos belaka. Ada saja bumbu-bumbu tak sedap di dalamnya. Membuatnya, harus merelakan atau tetap bertahan.
All Rights Reserved
#230
flashfiction
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DENTING  [Revisi]
  • KATA SANDI
  • From a friend to lover?
  • Antara Cinta dan Lara
  • GRIZLEN {On Going}
  • Me,You and the story we went through.
  • Stupid Love [END]
  • Menyimpan Rasa
  • Imagination

Kebersamaan dapat membuka celah dihati seiring berjalannya waktu. Berada disampingmu itu sebuah kenyamanan bagiku. Kamu yang selalu sabar, kamu yang menantiku, kamu yang bertahan disaat aku juga sedang bertahan untuk orang lain. Hingga orang yang aku perjuangkan ternyata mengecewakan. Tapi aku sadar, betapa hati ini kosong. Kau pergi membawa hatiku tanpa membawa diriku. Hatiku dibawa olehmu, aku tak dapat merasakan apapun selain kehangatan jiwamu. Namun, kamu pergi tanpa sempat memberi hatimu, Juga kau biarkan hatiku terkurung disana. Aku jatuh hati padamu. Sedangkan kamu terlalu mudah menjatuhkan hatiku. Kamu melupakanku, menjauhiku. Dan aku hanya bisa diam, menyadari semuanya berjalan menjauh tanpa bisa berbuat apa-apa. Karena ku rasa ini sudah sepantasnya aku dapatkan, mengingat dulu aku-lah yang lebih banyak menyakitimu. Dan itu seperti bomerang, kembali menyerang balik diriku. Aku tak dapat mencegahmu pergi. Dan kamu, diam-diam menjemput perempuan masa lalumu. Namun, aku terlalu bodoh untuk mengetahui perasaan orang macam kamu. Yang aku tahu, cinta itu mudah. Dan ternyata aku salah. Bahkan, aku salah telah memilih orang. ----- Note: Hargai tulisan karena menulis butuh pemikiran, waktu, dan imajinasi yang tak semudah saat membacanya saja. Dan lapor ya, kalo kalian menemukan cerita yang sama seperti ini, makasih ☺

More details
WpActionLinkContent Guidelines