ARGA-GIRA (Hiatus)

ARGA-GIRA (Hiatus)

  • WpView
    Membaca 2,588
  • WpVote
    Vote 877
  • WpPart
    Bab 13
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Min, Jan 31, 2021
Gira si penyuka ayam, benda yang ia miliki semua bertema ayam, hewan peliharaannya pun ayam. Jika ditanya mengapa menyukainya? Gira akan menjawab, "Mungkin ayamnya pelet gw." Arga si penyuka bebek, sama lah dengan Gira. Jika ditanya hal yang sama kepada Gira. Arga pun menjawab, "Mungkin bebeknya ngegoda gw, makanya gw kerangsang." Gira dan Arga menjalin hubungan pacaran, satu sekolah pun menyebut mereka 'copel gols hewan' itu lah nama yang telah dicap oleh seluruh sekolah. Penasaran dengan kisah Gira dan Arga? Baca aja:v Amazing cover by Pixiemiele
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#471
ayam
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Aku Yang Selalu Diremehkan
  • Ketos Vs Adek Kelas
  • ARGLADIS
  • JINGGA JOLICIA (ONGOING)
  • guru yang menyukai murid
  • WE ARE KLONING KLEB

Angga, seorang remaja pendiam yang gemar menggambar, selalu dianggap tidak berguna oleh ayahnya yang keras dan otoriter. Dalam keluarga yang mengagungkan prestasi akademik dan kesuksesan finansial, minat Angga terhadap seni dianggap sebagai hal sepele yang tidak memiliki masa depan. Hari demi hari, Angga dihujani kata-kata kasar dan sindiran yang menorehkan luka di hatinya. Di sekolah, Angga juga bukan siapa-siapa. Ia adalah bayangan yang tak terlihat, seorang anak yang duduk di pojok kelas, diam tanpa suara. Hanya secarik kertas dan pensil yang menjadi sahabat setianya. Namun, dalam dunia sketsa hitam-putih itu, Angga merasa bebas. Ia bisa menciptakan dunia yang ia inginkan - dunia di mana ia adalah pahlawan utama yang tak tertandingi. Namun, semua itu berubah ketika Angga bertemu dengan seorang mentor tak terduga, seorang pelukis jalanan yang pernah merasakan pahitnya diremehkan. Lewat bimbingan mentornya, Angga mulai menemukan kekuatan dalam dirinya. Ia belajar bahwa setiap goresan pensilnya adalah suara yang tak lagi bisa diabaikan. Seiring waktu, Angga mulai menunjukkan kemampuannya. Namun, ketika kesempatan besar datang - sebuah kompetisi seni bergengsi - Angga harus memilih antara mengejar mimpinya atau tetap tunduk pada bayangan sang ayah. Akankah Angga berhasil membuktikan bahwa ia lebih dari sekadar bayangan, atau justru tenggelam semakin dalam dalam cemoohan dan keraguan?

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan