"Gini aja deh, lo Vanila, lo duduk di sebelah gue. Dan lo, lo cari tempat duduk lain." Rio.
===
Dari sinilah semuanya bermulai, dari sini juga semuanya terasa. Asam, manis, pahit, semuanya mereka telan bersama.
Dulu, Vanila berkali-kali merapalkan do'a agar Rio lenyap dari hadapannya, berkali-kali juga Vanila berharap langit berkenan menelan Rio.
Tapi tak semudah itu membelokkan takdir, apalagi takdir yang direstui kenyataan adalah tetap.
===
"Lo mau gak bantuin gue?"
"Apa?"
"Bantuin memperbaiki keturunan gue, the next Rio."
"Ha?!"
"Kayaknya gue nggak perlu ngejelasin lebih panjang deh, lo udah pinter. Tinggal gue jelasin dikit. Jadi, siklus kehidupan lo kedepannya, lo bakal jadi istri gue, dan jadi ibu dari the next Rio. Oke? Deal!"
===
"Kalian gak apapa? Bisa pulang sendiri kan?" ucapnya.
"Kita gak apapa" rio
"Thanks buat pertolongannya. Sebenernya kita gak butuh pertolongan lo" ucap gue datar.
"Cishh... Sombong!!"
Gila nih cewek datar banget ucapannya. Gue kalah lo
"Tapi thanks" gue
"Ok. Gue cabut dulu" dia balik arah menuju ke motornya.
"Nama lo siapa?" gue
Bego!! Ngapain sih pake tanya tanya segala....
"Panggil aja gue queen" cewek itu yang ternyata bernama queen.
Queen.. Menarik!! ...
"Nomer hp donk? Line? Bbm? Apa aja deh!!" teriak rio.
"Privasi!!!" teriaknya.
"Hahhah mampus lo!!!" tawa gue meledak saat liat expresi rio yang keliatan malu banget.