A Taste
  • WpView
    Reads 328
  • WpVote
    Votes 15
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadComplete Thu, Nov 19, 2020
Adit tidak pernah merasa sepeduli ini dengan orang lain. Tidak pernah lebih peduli dari ini sebelum bertemu ia bertemu sosok purnama yang rapuh. Aschell sudah merasa kering dan layu bak tanaman tak terawat temannya. Dia mungkin akan tumbang ditengah langkahnya menyeberangi neraka. Bagi aschell, adit adalah oase ditengah gurun. Bagi adit, aschell hadir sebagai rembulan dingin yang menghangatkan jiwanya.
All Rights Reserved
#177
purnama
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Black Rose
  • Bunga Sadewa (E-book Di Playstore/Playbook)
  • Must goes on [END]
  • Luka Naren.
  • Brothersick
  • Sámpái Jumpá :) [Tamat]
  • Aizam dan November

"Nanti siang Sarah datang. Dia ingin bermain bersama kakaknya." La Lembah memandang pesan singkat di layar ponselnya. Seperti ada yang menaburkan bubuk cabai di kelopak matanya, tetapi air matanya sudah terlanjur kering sejak lama. "Saya anak tunggal." Ketik Lembah. "Jangan egois. Dia adik kamu." Tawanya terdengar, tetapi bukan tawa bahagia seperti yang diharapkan semua orang. Tawa menyakitkan yang syarat akan kesakitan. "Dia anak papa, bukan adik saya." "Berkali-kali saya ingatkan, La Lembah adalah anak tunggal. Tidak punya saudara, termasuk adik dan juga kakak." "Dia anak papa, berarti juga adik kamu." "Dia memang anak papa, tapi bukan adik saya." "Bahkan jika bisa, saya ingin berhenti menjadi anak Anda." Matanya perih, tetapi tak ada satu tetes pun yang ke luar dari sana.

More details
WpActionLinkContent Guidelines