"sampai kapan kamu mau nungguin dia, wen?" tanya april sahabat terbaik ku. "tapi aku sudah janji mau nunggu kalo dia lagi pergi, pril", jawabku sambil memasukkan buku. kelas sudah usai dan kami tak ada jadwal kuliah lagi. kami keluar menuju kantin, tempat favorit sebelum balik kerumah. "trus kamu mau sia-sia in Daffa yg selalu ngejar kamu? ganteng, pinter, tajir, kurang apalagi. lagipula Tama juga ga hubungi kamu sama sekali kan, pamitan aja kagak. udh 5 taun loh dia ngilang nya", celoteh April. aku memang tak banyak komentar kalau April sudah ngomongin dua cowok itu.
haruskah aku tetap menunggu Tama lagi? atau aku harus mulai membuka hati untuk Daffa? sementara ibu yg sudah mulai lemah terus menanyakan kapan aku menikah, mengingat sebentar lagi aq sudah lulus.
All Rights Reserved