Story cover for Langut by Tirtxs
Langut
  • WpView
    Reads 64
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 3
  • WpView
    Reads 64
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 3
Ongoing, First published Apr 25, 2020
Setiap malam aku selalu berpikir bahwa diriku sama saja seperti mereka tapi mengapa aku tidak pernah bisa berjalan bersama mereka lagi disini gelap,  sebenarnya apa yang terjadi padaku?
'Aku' adalah Ziva. Orangtuaku memberiku nama yang bagus memang tapi mengapa nama itu tidak sebagus jalan hidupku?. Aku suka bertanya - tanya pada diriku sendiri mrengapa aku hanya bisa duduk disini, disini gelap tolong aku. Setelah kejadian siang itu, duniaku menjadi gelap aku tak bisa pergi menemui mama, papa, kakak, bahkan teman-teman yang mengajakku kala itu. Aku benci hari itu aku benci hari ini karena tidak ada yang memberitahu alasan aku menjadi segelap ini.
All Rights Reserved
Sign up to add Langut to your library and receive updates
or
#853imajinasi
Content Guidelines
You may also like
"Bisikan Senior di Lorong Sunyi" by apriani200
22 parts Ongoing
Namaku Amira, tapi aku lebih suka dipanggil Mira. Aku baru saja menginjakkan kaki sebagai mahasiswa baru di sebuah fakultas yang terkenal-atau lebih tepatnya, ditakuti-karena senioritasnya yang begitu kuat dan tak kenal ampun. Aku pikir setelah melewati masa PKKMB yang melelahkan itu, hidupku akan mulai berjalan normal, seperti yang kudengar dari cerita teman-teman. Tapi aku salah. Sangat salah. Keesokan harinya, saat pelajaran baru saja selesai, kami dipanggil oleh para senior. Pertemuan pertama berlangsung di dekat kolam perpustakaan yang rindang, tempat yang seharusnya menenangkan, tapi malah membuat dada ini berdebar tak karuan. Suasana terasa tenang, tapi mataku menangkap ada sesuatu yang tak biasa-sebuah bayang gelap yang mengintip di balik senyum mereka. Hari-hari berlalu, dan tempat pertemuan kami bergeser ke lorong yang sunyi dan gelap. Lorong itu seperti ruang antara dunia nyata dan mimpi buruk. Bau lembap yang tajam menusuk hidung, nyamuk beterbangan seperti bayangan yang tak pernah lelah mengawasi, dan lampu remang yang membuat setiap bayangan jadi dua kali lebih menyeramkan. Setiap kali kami dikumpulkan di situ, aku merasa seolah-olah ada mata yang mengintai dari kegelapan, membidik dan menilai. Bisikan-bisikan samar para senior, tatapan dingin yang menusuk tulang, membuatku bertanya dalam hati: apakah ini benar-benar untuk melatih mental, atau sesuatu yang jauh lebih gelap? Aku, yang tubuhnya lemah dan sering sakit, merasa terjebak di tengah tekanan yang menyesakkan. Di antara teman-temanku-Ani yang pendiam tapi kuat, Aini yang selalu cemas, Olifia yang berusaha tegar, dan Ratih yang tak pernah berhenti berharap-kami saling menggenggam tangan dan hati, mencoba menguatkan satu sama lain. "Tapi aku tahu, bisakah kami bertahan?" Bisakah kami tetap berdiri tegak saat bayang-bayang senior terus membayangi dan bisikan itu berubah menjadi ancaman? Atau akan kah kisah kami berakhir di lorong sunyi itu, di mana keberanian diuji dan ketakutan menjadi penguasa?
You may also like
Slide 1 of 10
SAKARA cover
Slow Days (FIN) cover
Desa di Balik Kabut cover
kisah horor: teror jam 12 malam cover
Meneroka Jiwa 2 cover
"Bisikan Senior di Lorong Sunyi" cover
LUMPUH cover
Siluman Tak' Bernyawa cover
The Miracle cover
Si Manis cover

SAKARA

7 parts Ongoing

-Bisakah mereka menemukan pengampunan di tengah luka yang telah terukir?